Jepara  

Tembus Rp 8 Ribu per Kilogram! Harga Gabah di Jepara Bikin Petani Tersenyum Lebar Setelah Gagal Panen

PROSES: Shahri (57), petani asal Desa Kaliombo, Kecamatan Pecangaan saat panen gabah padi di lahan sawahnya, Kamis (9/7/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Shahri menggarap sawah seluas sekitar tiga hektare lebih satu kotak. Dari lahan tersebut, hasil panennya rata-rata mencapai sekitar 3,7 ton per hektare.

Ia menceritakan, pada musim tanam pertama, hasil panennya terdampak berbagai persoalan. Sawah sempat dilanda banjir, kemudian diserang tikus, burung, hingga wereng.

Meski pada MT 1 tidak terlalu parah, rentetan gangguan tersebut membuat hasil panen tidak maksimal.

Di sisi lain, kenaikan harga gabah belum sepenuhnya diikuti peningkatan keuntungan petani.

Pasalnya, biaya produksi terus mengalami kenaikan, mulai dari pupuk hingga obat-obatan pengendali hama.

“Harga pupuk naik terus, obat wereng juga naik. Harapan kami harga gabah tetap stabil, bahkan kalau bisa tetap tinggi supaya petani masih bisa mendapat keuntungan,” tuturnya.

Shahri menyebut, biaya operasional menggarap sawah mencapai sekitar Rp 7 juta per bahu (setengah hektare lebih), apabila seluruh pekerjaan menggunakan tenaga manusia.

Sementara jika menggunakan mesin, biayanya ditekankan menjadi sekitar Rp 5 juta per bahu.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir menyampaikan, tahun ini merupakan tahunnya para petani dengan adanya kenaikan harga jual hasil pertanian.

Mulai dari jagung, padi, palawija, kakao, dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Khusus petani padi, harga jual gabah kering panen tembus Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kilogram.

Harga ini meningkat dari sebelumnya yang berkisar antara Rp 7.200 hingga Rp 7.500 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas padi.

Kata Mudhofir, kenaikan ini dipicu beberapa faktor. Salah satunya di antaranya naiknya harga beras yang tembus Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per kilogram untuk jenis beras premium di pasaran.

“Ada juga faktor kompetisi harga. HPP gabah di angka Rp 6.500 per kilogram, sehingga pedagang membeli gabah petani berlomba-lomba lebih mahal dari HPP,” ujarnya.

“Dipicu juga harga beras sekarang naik di pasaran,” imbuh Mudhofir.

Ia menyebut, saat ini petani padi di Jepara sudah mulai panen hampir menyeluruh di semua lahan persawahan.

Di Kabupaten Jepara saat ini terdapat kurang lebih 25.611 hektare lahan pertanian.

Sebanyak 22.000 hektare di antaranya ditanami padi, sisanya ditanami jagung, ketela, tebu, dan jenis tanaman lainnya.

Menurutnya, produksi gabah di Jepara saat ini dinilai surplus.

Artinya, produktivitas padi masih mencukupi kebutuhan masyarakat dengan potensi rata-rata panen di angka 5,7 hingga 6 ton per hektare.

Meski demikian, Mudhofir menyebut ada beberapa lahan sawah yang mampu menghasilkan hingga 9 ton per hektare, sementara ada juga yang hanya menghasilkan 4 ton per hektare.

Tinggi rendahnya produktivitas padi dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya suplai air dan ketepatan dalam pemupukan. (oka/gih/rds)