Menurut Rudi, Kota Semarang juga masih menjadi tujuan pencari kerja dari berbagai daerah karena memiliki tingkat upah yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat struktur angkatan kerja di ibu kota Jawa Tengah didominasi usia produktif yang datang untuk mencari pekerjaan.
Di sisi lain, BPS belum melihat adanya dampak signifikan dari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap kondisi ketenagakerjaan di Kota Semarang sepanjang tahun ini.
Justru, tren investasi di Kota Semarang terus mengalami peningkatan sehingga membuka peluang kerja baru.
“Untuk di Kota Semarang sejauh ini belum ada isu besar terkait PHK. Malah kalau dari sisi investasi, Kota Semarang terjadi peningkatan,” tegasnya.
“Ketika ada perusahaan masuk investasi ke Kota Semarang, mereka akan membutuhkan tenaga kerja sehingga sangat membantu menurunkan pengangguran,” terangnya.
Rudi menambahkan, investasi menjadi penopang utama perekonomian Kota Semarang dengan kontribusi sekitar 60 persen.
Sementara itu, sekitar 40 persen sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga.
Karena itu, keberlanjutan investasi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga tren penurunan pengangguran, sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. (hfh/gih/rds)










