Kresna menyebut, tidak menutup kemungkinan ruang kelas 2 dan 3 juga akan terdampak. Sebab, bangunan sekolah ini sudah berumur tua, yakni berdiri sejak 1985 dengan total murid 157 peserta didik saat ini.
“Sejak 1985, renovasi pertama itu tahun 2005. Kemudian renovasi kecil-kecilan,” ujarnya.
Hingga kini, relokasi pembelajaran masih berlangsung dan belum diketahui sampai kapan akan dilakukan.
Ia menyebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara telah mengusulkan penanganan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT). Tim konsultan juga telah melakukan pemeriksaan terhadap struktur bangunan saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
“Kalau sampai kapan relokasinya kami juga belum tahu. Hari ini (Kamis, 30/7/2026) dari Disdikpora sedang mengurus BTT,” ungkapnya.
“Sekarang usulannya sudah naik ke Pak Bupati, tinggal nunggu disposisi,” tambahnya.
Meski harus berpindah tempat, proses belajar mengajar tetap berjalan. Pantauan di lapangan, para siswa tampak mengikuti pelajaran seperti biasa di rumah warga yang dijadikan ruang kelas sementara.
Mereka terlihat berusaha beradaptasi dengan kondisi tersebut sembari menunggu sekolah diperbaiki.
Salah seorang siswi yang direlokasi, Aya (bukan nama sebenarnya), mengaku berharap bisa segera kembali belajar di gedung sekolah yang semestinya.
“Ya penginnya cepat selesai diperbaiki. Karena nggak nyaman, di rumah orang tidak enak,” tuturnya. (oka/gih/rds)










