Terdampak El Nino, Produksi Cabai Turun Ribuan Ton

PRODUKSI: Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat meninjau panen cabai di wilayah Bumi Sembada, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman memperkirakan produksi cabai di wilayahnya turun sebanyak 2.281,3 ton pada 2023 ini. Penurunan produktivitas cabai itu, disebabkan karena gangguan cuaca dan dampak dari el nino.

Kepala DP3 Sleman Suparmono mengatakan, adanya el nino dan gangguan cuaca telah berdampak kepada penurunan produktivitas cabai di wilayahnya. Jika pada 2022, Sleman mampu memproduksi 11.406,6 ton, maka pada 2023 produksi itu diperkirakan turun sekitar 20% atau 2.281,3 ton atau total produktivitas cabai pada 2023 adalah sebesar 9.125,3 ton.

“Penurunan itu karena adanya dampak el nino dan perubahan cuaca,” terangnya di Sleman.

Suparmono menambahkan, selama ini produksi cabai ada di 17 kapanewon di Bumi Sembada. Di mana, daerah yang selama ini jadi sentra produksi berada di Kapanewon Ngaglik, Pakem, Ngemplak, Turi, Sleman, dan Tempel. Pasalnya, jenis cabai yang berkembang di Kabupaten Sleman adalah cabai rawit dan cabai keriting.

“Sebelum adanya gangguan cuaca dan el nino, tercatat produksi cabai di Sleman cenderung stabil. Kaena adanya penerapan pola tanam. Di mana rata-rata produksi per bulan ada lahan cabai 300 hektare,” jelasnya.

Menurutnya, para petani telah mengoptimalkan keberadaan pasar lelang dan titik kumpul cabai berperan penting bagi petani dalam meningkatkan posisi tawar. Dimana, titik kumpul ini adalah tempat singgah sementara untuk cabai sebelum dikirim ke pembeli yang sudah memenangi lelang.

“Cabai hasil lelang rata-rata dikirim ke beberapa pasar induk di Jakarta,” tuturnya.

Ia mengaku, dinas telah melakukan berbagai upaya agar produksi cabai di tahun ini tetap terjaga. Pihaknya, telah melaksanakan 30 kali Sekolah Lapang Budidaya Cabai dimana dalam setiap pelaksanaan dikembangkan 1,25 hektare lahan cabai dan memberikan penyuluhan terkait cara penanggulangan hama dan penyakit tanaman cabai.

“Semua itu, sudah dilakukan oleh teman-teman di lapangan,” imbuhnya.

Penurunan produksi cabai di Sleman tentu berdampak kepada peningkatan harga cabai di sejumlah pasar dalam beberapa waktu terakhir. Harga cabai rawit merah di Sleman pada Jumat (17/11)  Rp77.750. Sementara harga cabai rawit hijau Rp67.750 per kilogram, cabai merah besar Rp59.857 per kilogram dan cabai merah keriting Rp66.750 per kilogram.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, kenaikan cabai utamanya rawit baik hijau  maupun merah dipengaruhi oleh faktor musim. Di mana saat ini banyak tanaman cabai rusak karena kekeringan.

Di samping itu kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan dan sedikitnya stok cabai rawit di pasaran. “Kami sendiri hanya melakukan pemantauan dan tidak melakukan operasi pasar,” katanya.

Diakui oleh Mae, stok cabai rawit yang ada di sejumlah pasar di Bumi Sembada tidak sepenuhnya berasal dari DIY. Justru cabai yang ada banyak berasal dari Jawa Timur.

“Cabai banyak dipasok dari Kediri, Jawa Timur. Kita juga ada lelang cabai yang peserta dari luar DIY. Kalau ketersediaan banyak, hanya saja banyak yang rusak, permintaan tidak turun,” demikian kata dia. (bam/all)