DI tengah rimbunnya hutan jati Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, geliat ekonomi dan budaya warga kembali tumbuh subur melalui sebuah pasar tradisional bernama Sarwono. Pasar ini tak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang perjumpaan antara tradisi, kuliner lokal, dan kreativitas masyarakat.
Kepala Desa Wonosoco, Setyo Budi menuturkan bahwa Pasar Sarwono lahir dari semangat warga. Yang mana, untuk menghidupkan kembali denyut desa wisata yang sempat mati suri akibat pandemi covid-19.
Kala itu, kunjungan wisatawan ke Wonosoco lumpuh total. Pemerintah desa pun menggerakkan kembali BUMDes, yang sebelumnya pasif, untuk mengelola sektor pariwisata desa.
“Dulu, pengelola wisata namanya masih Pokdarwis. Setelah dipegang BUMDes, muncul banyak ide kreatif. Salah satunya memanfaatkan lahan hutan jati milik desa untuk tempat wisata. Awalnya hanya untuk selfie-selfie, lalu berkembang jadi pasar tradisional,” jelasnya.
Nama Sarwono diambil dari kata pasar dan wono yang dalam bahasa Jawa berarti hutan. Jadi, Sarwono adalah pasar di bawah hutan jati. Berdiri sejak akhir 2022, pasar ini kini berkembang pesat dan rutin digelar setiap dua pekan sekali, menampilkan kekayaan kuliner dan budaya khas Wonosoco.










