Manfaatnya sangat banyak bagi tubuh meski belum sepopuler minuman kekinian yang banyak digandrungi anak muda. Rasanya pun tidak melulu pahit. Bisa sesuai selera.
JAMU yang selama ini dikenal pahit dan identik dengan cara penyajian tradisional, kini hadir dengan wajah baru melalaui brand Acaraki. Produk yang sudah berdiri sejak 2018, mempunyai tagline Art Of Jamu, yang mempunyai cara penyajian ala barista kopi.
Salah satu peracik Acaraki, Asep Suhendi mengatakan, konsep tersebut lahir dari keinginan memperkenalkan jamu kepada generasi muda.
“Kami bikin jamu lebih modern dengan alat-alat kopi. Anak muda bisa lihat langsung prosesnya, dari bahan kering sampai penyajian,” ujarnya saat ditemui Joglo Jateng di stand Festival Kuliner dan Jamu di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Kamis (21/8/25).
Perihal rasa, Acaraki menyediakan beragam rasa. Bahkan, varian campuran seperti jahe, madu, lemon, dan biji selasih yang menghasilkan cita rasa segar.
“Jamu tidak selalu pahit. Bisa enak, bahkan manis, tergantung selera,” imbuhnya.
Keunikan lain, rasa jamu Acaraki berbeda tergantung alat racik yang digunakan. Hal ini membuat pengalaman minum jamu mirip seperti menikmati kopi, dengan aroma dan cita rasa beragam.
Outlet pertama Acaraki berdiri di Kota Tua Jakarta sejak 2018 setelah riset dua tahun. Untuk Jawa Tengah, belum ada gerai permanen. Namun, warga Jateng bisa membeli Produk jamu ini melalui market place dalam bentuk serbuk kering dengan harga Rp110 ribu–Rp154 ribu per 100 gram.
“Dengan tagline The Art of Jamu, Acaraki berupaya mengubah stigma jamu sebagai minuman pahit menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan modern,” tandasnya. (luk/adf)










