Demak  

Sentra Ikan Asap Wonosari Jadi Pusat Roda Ekonomi Pesisir Demak

Bupati Demak beserta jajaran sedang meninjau proses produksi di kawasan Sentra Ikan Asap Desa Wonosari.
JOS: Bupati Demak beserta jajaran saat mengunjungi Sentra Ikan Asap Andalan Demak di Desa Wonosari, beberapa waktu lalu. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Desa Wonosari di Kecamatan Bonang kini sukses dikenal sebagai sentra ikan asap terbesar di Kabupaten Demak yang mampu menggerakkan roda perekonomian warga pesisir. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2010 silam, kawasan ini bertransformasi menjadi pusat produksi olahan laut yang tidak hanya melayani pasar lokal, tetapi juga menjangkau permintaan dari Semarang hingga Jakarta.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, Nanang Tasunar, menjelaskan bahwa pengembangan sentra pengasapan ikan di Wonosari dilakukan secara bertahap. Program pemberdayaan ekonomi ini melalui proses panjang hingga akhirnya mampu menampung puluhan pelaku UMKM.

”Awalnya kita mulai sekitar 2010 dan berkembang bertahap. Sekarang di sentra tersebut tercatat sekitar 76 pelaku usaha pengolahan ikan asap,” ujar Nanang.

Ia menyebutkan, jenis ikan yang diolah cukup beragam mulai dari lele, tongkol, salem, hingga ikan manyung. Namun, komoditas primadonanya tetap jatuh pada ikan manyung karena memiliki daging tebal dan cita rasa gurih yang khas.

”Ikan manyung paling banyak diminati. Dagingnya tebal dan gurih, apalagi kepalanya sering digunakan untuk menu mangut yang cukup populer,” jelasnya.

Mengingat ketersediaan ikan manyung berukuran besar dari perairan Pantai Utara (Pantura) Jawa kian terbatas, sebagian bahan baku harus didatangkan langsung dari perairan Arafura, Indonesia Timur. Terkait harga, ikan manyung mentah dijual berkisar Rp 35 ribu per kilogram, dan bisa melonjak naik menjadi sekitar Rp 70 ribu per kilogram setelah melalui proses pengasapan.

Solusi Polusi Udara dan Potensi Wisata Kuliner

Dalam proses produksinya, ikan tangkapan yang telah disimpan dalam kondisi dingin akan dipotong dan diasap selama kurang lebih 30 menit. Proses ini menghasilkan aroma lezat sekaligus memperpanjang daya simpan produk laut tersebut.

”Pengasapan ini selain untuk pengawetan juga memberikan aroma yang khas. Tapi kualitas ikan tetap harus segar, karena kalau bahan bakunya kurang baik, hasilnya juga tidak maksimal,” kata Nanang.

Lebih lanjut, Nanang menuturkan bahwa keberadaan sentra pengasapan ini awalnya dicetuskan sebagai solusi atas permasalahan tata lingkungan hidup. Sebelumnya, warga melakukan proses pengasapan di rumah masing-masing sehingga asap menyebar ke permukiman dan memicu keluhan pernapasan (ISPA).

”Dulu pengasapan dilakukan di rumah-rumah dan menimbulkan keluhan masyarakat. Akhirnya kami bersama warga sepakat membangun sentra di lokasi yang lebih jauh dari permukiman,” ungkapnya.

Selain di Wonosari, sentra pengasapan serupa berskala lebih kecil juga dikembangkan di wilayah Sayung dan Wonosalam. Meski begitu, Wonosari tetap menjadi pusat utama karena memiliki jumlah pelaku usaha terbanyak dan keahliannya telah diwariskan secara turun-temurun.

Pemerintah Kabupaten Demak melalui dinas terkait juga terus melakukan pengawasan kualitas agar produk ikan asap bebas dari bahan berbahaya. Ke depannya, sentra pengasapan Wonosari tidak sekadar menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata belanja kuliner khas pesisir Demak. (adm/fat/rds)