KEBIASAAN Retno Wulan Sari berbelanja pakaian bermerek membuahkan hasil. Setelah pakaian branded miliknya menumpuk, perempuan kelahiran Padang ini membuat bisnis thrift shop atau menjual produk second.
Mahasiswi jurusan manajemen Universitas PGRI ini menceritakan, hobi belanja pakaian branded itu, ia ditekuni sejak duduk di bangku perkuliahan pada 2017. Ia pun sering dimarahin orang tua lantaran pakaian yang dia beli sudah menumpuk di kamarnya. Dari situ, Retno mulai berpikir agar barangnya bisa menjadi peluang berwirausaha.
“Barang yang dibeli sudah banyak dan menumpuk di kamar membuat saya sering dimarahin ibu. Terus, aku bagaimana caranya mencari peluang berwirausaha dari hobi yang saya miliki. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuka usaha thrift saat awal puasa pada 2020,” kata gadis asal Desa Bebengan, Boja, Kendal, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (14/2).
Setelah mulai berbisnis, dara cantik ini memberanikan diri untuk kulakan pakaian bekas impor. Namun, orang tuanya sempat tidak merestui, sehingga dia menyakinkan kepada kedua orang tuanya bahwa bisnisnya dapat membawa keuntungan banyak.
“Iya sempat orang tua tidak setuju, karena takut barangnya enggak laku. Kemudian, saya menyakinkan kepada orang tua bahwa usaha miliknya bakal berkembang pesat,” ujarnya.
Gadis kelahiran Juli 1999 ini menuturkan, saat bisnisnya berjalan dan kulakannya laris terjual sampai setengah bal, orang tuanya mulai percaya. “Melihat seperti itu, orang tua langsung memberikan fasilitas tempat buat jualan ukurannya kecil sekitar satu kamar. Alhamdulilah, tahun 2020 akhir sudah terbangun rukonya di depan rumah,” jelasnya.
Kesuksesan ini berkat keuletan Retno hingga mampu memiliki pelanggan tetap dari lokal dan luar Jawa. Salah satunya jualannya sampai Maluku. “Setiap hari saya menawarkan melalui live streaming di aplikasi belanja,” bebernya.
Meskipun bisnisnya terbilang sukses, perempuan cantik ini juga pernah melewati jatuh bangun dalam berwirausaha. Menurutnya, lika-liku tersebut harus diimbangi dengan ketekunan dan keuletan. Sehingga, kini Retno mampu meningkatkan omset dari bisnisnya.
“Terberat, saya pernah dapat satu bal full isinya basah dan banyak bercak hitam alias rusak. Satu lagi, full satu bal model jadul, jadi benar-benar tidak bisa dijual hanya dibagikan saja. Saat itu,10 juta lebih tidak bisa dimainkan barangnya. Itulah lika-liku saya berjualan, tapi sekarang alhamdulilah omset 1 bulan diangka 5-6 juta,” ungkapnya.
Retmo berharap bisnisnya bisa berkembang pesat di seluruh daerah Jateng. Ia saat ini sudah memiliki dua cabang di Ungaran dan Kendal. “Semoga bisa buka cabang lagi di daerah daerah lain,” ucapnya. (dik/gih)










