Oleh: Lastriningsih, S.Pd.
Guru IPS SMPN 2 Sukodono, Kab. Sragen
KEGIATAN pembelajaran yang dilaksanakan pada satuan pendidikan merupakan sarana pencapaian kompetensi. Dalam pembelajaran IPS kelas VIII C SMP Negeri 2 Sukodono Sragen terjadi verbalisme dengan tingginya peran guru (teacher centered approach), menyampaikan materi pelajaran hanya memberi penjelasan dan penuturan secara lisan. 60% siswa cenderung bersikap antagonistik, pasif, dan apatis dalam belajar. Padahal seharusnya guru membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk memupuk rasa ingin tahu secara ilmiah dengan mengembangkan kemampuannya. Apabila hal ini tidak segera disikapi maka banyak siswa yang tidak optimal dalam memperoleh hasil belajar.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru IPS mencari solusi dengan menerapkan metode pembelajaran Takir yang merupakan akronim dari Peta Pikiran (mind mapping), dengan diharapkan dapat membangkitkan dan memotivasi siswa aktif berpikir kritis dan kreatif dalam memahami konsep, meningkatkan daya ingat dan pembelajaran lebih menarik.
Takir merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan. Teknik ini didasarkan pada cara kerja alamiah otak dan mampu menyalakan percikan-percikan kreativitas dalam otak karena melibatkan kedua belahan otak kita Sehingga fungsi otak kanan dan kiri menjadi maksimal serta efektif karena menggunakan penjabaran secara visual dengan penggunaan simbol, kata, warna yang ramah untuk otak dan mudah dipahami (Buzan: 2005).
Metode ini berguna memberikan pandangan menyeluruh pokok masalah, memungkinkan siswa merencanakan rute atau kerangka pemikiran, mendorong pemecahan masalah dengan kreatif, meningkatkan pemahaman dan memberikan catatan tinjauan ulang yang berarti. Menurut Swadarma (2013) Takir adalah cara mencatat yang efektif, efisien, kreatif, menarik, mudah, dan berdaya guna karena dilakukan dengan cara memetakan pikiran-pikiran kita.
Cara membuat Takir adalah dengan menulis topik yang akan dibahas di tengah-tengah selembar kertas kosong dalam posisi landscape menggunakan gambar, simbol, atau kode yang berwarna dan indah agar siswa bisa mengingat informasi pengetahuan, bacaan, tulisan pada materi dengan efektif. Dengan visualisasi kerja otak kiri yang bersifat rasional, numerik dan verbal bersinergi dengan kerja otak kanan yang bersifat imajinatif, emosi, kreativitas dan seni. Dengan menyinergikan potensi otak kiri dan kanan, siswa dapat dengan lebih mudah menangkap dan menguasai materi pelajaran.
Adapun sintaks model pembelajaran Takir sebagai berikut. 1) Pendahuluan. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai dan memberikan penjelasan singkat materi pembelajaran. Kemudian membentuk kelompok belajar dengan anggota kelompok sekitar 5 siswa dengan mempertimbangkan kemampuan akademik. 2) Pelaksanaan. Siswa bekerja dalam kelompok membuat Takir, dengan memetakan ide-ide atau kata kunci. Identifikasi tipe-tipe hubungan antara ide tersebut apakah saling bertolak belakang, saling memiliki persamaan, dan merupakan sebab akibat. Ketika sudah yakin akan asosiasi-asosiasi dari proses pemetaan ide-ide tersebut maka menggunakan ide terakhir untuk proses finalisasi Takir kemudian mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. 3) Penutup. Guru dan siswa mengadakan refleksi dan membuat kesimpulan dari pembelajaran yang telah berlangsung. Guru memberikan evaluasi dan menilai dengan rubrikasi nilai untuk memastikan bahwa Takir sudah benar.
Berdasarkan pengalaman diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan Takir sebagai metode pembelajaran dapat mengoptimalkan minat dan hasil belajar IPS. Terbukti, setelah diadakan penilaian pada materi Penguatan Ekonomi Agrikultur di Indonesia kelas VIII C SMPN 2 Sukodono Sragen tahun pelajaran 2021/2022 semua siswa mengikutinya dengan nilai 96,15 % di atas KKM 76. Siswa berantusias untuk aktif berpikir kritis dan kreatif dalam memahami konsep, meningkatkan daya ingat dan pembelajaran lebih menarik sehingga mendapatkan hasil belajar yang optimal. (*)








