Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Multimedia saat PTM Terbatas

Oleh: Nur Hizaroh, S.Pd.SD
Guru SDN 01 Sidorejo, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PROSES pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang diberikan oleh pendidik  harusnya bisa menarik, efektif, dan efisien dengan menggunakan model-model pembelajaran, strategi, media, pendekatan, dan metode pembelajaran. Apabila proses pembelajaran menyenangkan, maka peserta didik akan bisa lebih aktif, kreatif, dan fokus dalam suatu pembelajaran dan pada akhirnya peserta didik dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Sehingga peserta didik dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dalam pelaksanaan PTM terbatas yang dilaksanakan di semester 2 tahun pelajaran 2021/2022, siswa masih belum bisa fokus belajar di dalam kelas selama waktu yang dijadwalkan. Anak cenderung ingin cepat pulang dan malas dalam mengerjakan tugas belajar. Untuk memperbaiki hal itu diperlukan model-model pembelajaran serta penggunaan media pembelajaran yang tepat agar tercipta suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Salah satunya dengan penggunaan model pembelajaran probing-prompting berbasis multimedia dalam pembelajaran tematik.

Menurut Turban, dkk (2002) bahwa multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data. Media ini dapat berupa audio (suara, musik), animasi, video, teks, grafik, dan gambar. Pada abad 21 ini multimedia segera menjadi suatu keterampilan dasar yang sama pentingnya dengan keterampilan membaca. Sesungguhnya multimedia mengubah hakikat membaca itu sendiri. Multimedia bisa menjadi pemicu yang dapat dilakukan untuk memperluas cakupan teks untuk memeriksa suatu topik tertentu secara lebih luas.

Kelebihan multimedia adalah menarik indera dan menarik minat, karena merupakan gabungan antara pandangan suara dan gerakan. Perkembangan multimedia mengikuti perkembangan internet, maka multimedia merupakan pasar yang pertumbuhannya tercepat di dunia saat ini (M. Suyanto, 2005).

Model pembelajaran probing-prompting merupakan pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya, siswa mengontruksi konsep, prinsip, dan aturan menjadi pengetahuan baru. Pada model pembelajaran ini, proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab (Maulana Arafat Lubis, 2018).

Langkah-langkah model pembelajaran probing-prompting, pertama, guru menghadapkan siswa pada situasi baru. Misalkan dengan memerhatikan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan. Kedua, menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil dalam merumuskannya. Ketiga, guru mengajukan persoalan kepada siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus atau indikator kepada seluruh siswa. Keempat, menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil untuk merumuskannya. Kelima, menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.

Model pembelajaran probing-prompting memiliki kelebihan sebagai berikut. 1) Mendorong siswa aktif berpikir. 2) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas sehingga guru dapat menjelaskan kembali. 3) Perbedaan pendapat antara siswa dapat dikompromikan atau diarahkan. 4) Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.

Melihat langkah-langkah dan kelebihan yang diteliti oleh ahli yang dijelaskan menunjukkan adanya keaktifan dan menciptakan belajar yang menjadikan anak mampu berpikir kritis dengan diskusi dan menyampaikan hasil rumusannya. Kelebihan model pembelajaran probing-prompting berbasis multimedia dalam pembelajaran tematik di saat PTM terbatas yakni melalui video pembelajaran yang diberikan guru ketika menjelaskan materi sangat efektif dengan keterbatasan waktu tatap muka. Ataupun menjadi pra pembelajaran yang dikirim guru dalam WA grup sehingga ketika di sekolah bisa dibahas dalam diskusi kelompok kecil. Efektifitas dan terwujudnya tujuan pembelajaran bisa tercapai. Profesionalisme guru di antaranya keberhasilan dalam pembelajaran dengan selalu menggunakan model-model pembelajaran yang up to date menjadi wujud pengembangan profesi guru. (*)