Jual Jajanan Korea sebagai Refreshing

OLAH: Gilang saat membuat makanan khas Korea, Topokki, belum lama ini. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

Banyak cara untuk menambah pemasukan meskipun sedang menempuh pendidikan perkuliahan. Seperti yang dilakukan Gilang, jualan makanan yang sedang nge-hits bisa jadi alternatif.

MAKANAN khas Korea akhir-akhir ini banyak diminati anak muda seiring banyaknya peminat film Korea di Indonesia. Salah satunya adalah makanan bernama Topokki. Tak ayal, hal itu membuat Gilang Ramadhani mencoba menjajakannya di sela-sela kesibukannya kuliah.

Mahasiswa Universitas Ivet (Unisvet) Semarang ini mengaku menjajakan makanan khas Korea itu karena peminatnya cukup banyak. Meskipun dia sendiri menjualnya untuk mengisi kekosongan waktu dan me-refresh pikirannya karena materi perkuliahan.

“Jualan karena iseng sebenarnya, selama lima hari nugas bikin pusing. Terus jualan deh biar fresh, sekalian buat tambah-tambah apabila terdapat kebutuhan yang mendadak,” ujar Pemuda asal Semarang Utara ini saat ditemui Joglo Jateng saat ada seminar internasional di Sportarium kampusnya, belum lama ini.

Tidak hanya di acara tersebut, usaha yang dinamakan ‘Topokkivet’ ini di setiap minggunya juga ada di areal Car Free Day (CFD) Simpang Lima Semarang.

“Jualan lebih free ketimbang kerja, kalau kerja diatur sama atasan. Sedang jualan seselo kita, pas free bisa jualan, misal pas ada acara atau juga cfd setiap minggu. Selainnya kuliah tentunya,” tambahnya.

Ia melanjutkan, saat berjualan keuntungan naik turun, tidak pasti. Namun ia mengaku optimis, karena makanan ini begitu banyak dicari oleh anak muda.

“Modal awal 700 ribuan, untuk paper cup, bahan-bahan semua, termasuk gas dan lain-lain. Sekarang sudah balik modal, meski secara omzet setiap jualan belum bisa diperkirakan dengan pasti. Akan tetapi saya tetap optimis, karena makanan ini hype abis,” lanjutnya. (cr2/gih)