BANYAK orang menganggap bahwa daun sesuatu barang kurang bisa dimanfaatkan. Namun tidak bagi Sugiwati. Perempuan kelahiran Pati itu berhasil mengembangkan produk kerajinan berbahan tulang daun.
Gadis berparas cantik tersebut menceritakan, ide bisnisnya itu muncul saat dirinya masih menempuh pendidikan strata satu progam studi Biologi. Dimana, ia memperoleh mata kuliah yang mempelajari tentang tulang daun.
“Awalnya ada mata kuliah tentang tumbuhan. Nah, di situ aku diajari cara buat tulang daun. Terus aku punya ide tulang daun dibuat sebagai gantungan kunci dan pembatas buku,” ucap gadis lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus itu, Rabu (27/7).
Dirinya memanfaatkan daun yang berserakan di sekitar tempat tingganya sebagai bahan membuat produk. Berkat ketrampilan ketelatenannya, barang yang dianggap tak berguna itu ia ubah menjadi pundi-pundi rupiah.
“Orderan banyak dari teman-teman. Aku sedikit kasih varian inovasi warna dan custom nama juga. Jadi mereka anak-anak milenial biar lebih tertarik,” tuturnya.
Perempuan yang akrab disapa Wati itu menjelaskan, para konsumen perlu memesan terlebih dahulu sebelum membeli. Pasalnya, proses produksi tergolong memakan waktu dan ia pun memiliki aktivitas keseharian lainnya. Sedangkan harga produk ciptaanya terbilang beragam.
“Sekarang juga mengajar. Jadi harus pre order (PO) sekitar satu Minggu paling cepet. Soalnya, proses pembuatan juga cukup rumit dan panjang untuk buat tulang daun. Kalau harga mulai dari 20 ribu, untuk ukuran kecil sampai ratusan ribu,” ungkapnya.
Wati berharap usahanya itu bisa semakin diterima pasar. Dengan begitu, ia perlu lebih tekun dan bekerja cerdas. “Harapannya ya semoga bisa semakin berkembang. Teknik marketingnya juga akan semakin digencarkan. Sambil diatur waktunya nanti,” tutupnya. (lut/gih)










