Pentingnya Menanamkan Pendidikan Literasi bagi Anak Usia Dini

Oleh: Supatmi, S.Pd.
Guru TK Negeri Pembina, Kec. Gajah, Kab. Demak

LITERASI secara harfiah berasal dari bahasa Inggris yaitu literacy yang bermakna sebuah aksara. Secara etimologi istilah literasi berasal dari bahasa Latin literalus yang artinya orang yang belajar (Sevima 2020). Literasi merupakan pintu gerbang bagi anak untuk dapat memahami lingkungan sekitar dan menyampaikan pikiran serta perasaannya kepada lingkungan sekitarnya.

Tujuan menanamkan pendidikan literasi bagi anak usia dini adalah untuk membantu anak dalam memahami orang lain dan lingkungannya. Kemudian meningkatkan kreativitas dan kemampuan anak untuk berpikir kritis dan berpikir logis. Lalu melatih kemampuan dasar anak yang dibutuhkan pada jenjang pendidikan selanjutnya, serta menumbuhkan minat anak untuk mengenal keaksaraan.

Literasi pada anak usia dini merupakan proses berkelanjutan yang sangat dinamis. Mulai dari munculnya rasa ingin tahu, berpikir kritis berbahasa lisan, hingga pada kemampuan membaca dan menulis. Saat anak sudah mulai menguasai bahasa lisan dengan baik, maka anak siap untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis. Untuk mengenalkan literasi, guru harus memperhatikan bahwa makna dari suatu tulisan sangat penting bagi anak. Hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan literasinya adalah dengan sering mengajak anak untuk berbicara dan membaca bersama.

Dukungan guru dan orang tua agar anak memperoleh pengalaman literasi yang bermakna antara lain menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Sehingga setiap anak dapat leluasa menyampaikan ide gagasan, perasaan, serta mengekspresikan melalui berbagai cara dan media.

Menurut (Yusuf 2004), ada beberapa faktor yang berpengaruhi dalam kemampuan literasi anak usia dini. Yaitu pertama, faktor kesehatan. Apabila pada dua tahun pertama kesehatan seorang anak sering terganggu, maka kemampuan literasinya juga akan terhambat. Kedua, intelegensi. Anak yang mempunyai tingkat intelegensi yang normal atau di atasnya, biasanya memiliki kemampuan literasi lebih baik daripada anak yang mengalami kelambatan mental.

Ketiga, status sosial ekonomi. Bahwa sebagian besar anak yang berasal dari keluarga miskin akan memiliki kemampuan literasi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga mampu dan kaya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar pada anak dari keluarga miskin dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang mampu dan kaya.

Keempat, jenis kelamin. Berdasarkan faktor jenis kelamin ini, sejak usia dua tahun ke atas, anak perempuan mempunyai kemampuan literasi yang lebih baik dibandingkan anak laki-laki. Kelima, hubungan keluarga. Anak yang menjalin hubungan dengan keluarganya secara sehat penuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya dapat mengoptimalkan kemampuan literasinya.

Penerapan kegiatan literasi di TK Negeri Pembina antara lain setiap hari kegiatan awal anak untuk berbagi cerita secara bergiliran sesuai dengan pengalaman atau kejadian yang dialami anak. Kemudian dibacakan buku cerita. Anak memperhatikan dan menirukan bacaan isi cerita supaya menambah perbendaraan kosa kata. Untuk kegiatan inti anak dikenalkan literasi dengan mengenal dan membedakan simbul-simbul huruf, menyusun huruf dengan media loose part, mencontoh menulis huruf diatas pasir. Lalu menulis di kertas atau buku, menyusun kata, membaca gambar, tebak gambar, dan mencocokkan huruf. Setiap Sabtu anak dibiasakan pinjam buku cerita yang disukai dan dibawa pulang untuk dibacakan bersama orang tua.

Upaya-upaya tersebut diatas diharapkan diimplementasikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya mengenalkan pendidikan literasi lebih awal. Orang tua tetap mendampingi anak dalam belajar dengan aman dan nyaman, dengan membacakan buku cerita untuk mengenalkan perbendaharaan dan suku kata. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dalam mengenali literasi. Nantinya anak bisa menulis dan membaca dengan lancar. (*)