Kudus  

Sampaikan Cerita Rakyat melalui Seni Mural

mural yang diinisiasi Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus
KREATIF: Tampak warga melewati mural yang diinisiasi Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus untuk menganggat cerita rakyat melalui seni mural, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Mural menjadi salah satu media bagi anak muda yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian kritik dan berekspresi. Namun untuk saat ini, tidak hanya dijadikan sarana mengkritisi, akan tetapi sebagai pesan dari sebuah cerita rakyat.

Salah satunya di Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus. Mereka memiliki serangkaian agenda, salah satunya Spray your Folklore (SYF) yang melibatkan penggambar mural di Kudus atau para writer. Meredupnya ekosistem mural usai pandemi, menjadikan KBPW tertarik untuk menyuarakan dan menggandeng Folklore.

Bertema foklor, perupa mural telah menggambar sebanyak enam titik yang sudah ditentukan. Cerita rakyat berbasis folklor Sunan Muria beralih fungsi menjadi mural di tembok-tembok jalan dan sudut-sudut desa.

Termasuk di Sendang Serut, Sendang Kamulyan hingga di tengah-tengah perempatan desa, menjadi titik lokasi menggambar. Banyak writer mural dari luar Kudus yang turut berpartisipasi. Seperti, Sragen, Semarang, dan sekitarnya.

Koordinator event SYF, Fakhri Husaini mengatakan, digelarnya acara tersebut bertujuan untuk mewacanakan cerita rakyat melalui seni mural. Mengingat, saat ini mural dianggap sebagai vandalisme para kawula muda yang tidak terarah.

“Saya juga ingin menghidupkan kembali event mural di Kota Kretek agar lebih meriah lagi. Hal itu juga menjadi keresahan bersama, supaya ekosistem street art dan seni rupa khususnya di Kudus dilirik sebagai karya bagus,” bebernya kepada Joglo Jateng, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Danangsu salah satu writer mural mengatakan, event tersebut cukup menarik. Sebab, tidak ada atau jarang seseorang yang menyampaikan folklor melalui mural. Terlebih, mural yang digambar juga berada di tengah-tengah perkampungan.

“Maksudnya, para perupa mural harus bersinggungan dengan warga setempat dan bersosial selama menggambar. Mural juga bisa berbaur dengan masyarakat desa, berada di tengah desa, bersinggungan langsung dengan masyarakat,” pungkasnya. (cr12/fat)