Masjid Agung Jawa Tengah, Disekat untuk Kemaslahatan Umat

Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah. (NANANG / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Pelataran Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terletak di Jalan Gajah Raya, Sambirejo, Kecamatan Gayamsari itu tampak lengang. Angin bertiup agak kencang menerpa setiap jamaah yang memasuki latar Masjid. Deretan toko cendera mata di kanan-kiri Masjid seolah hanya tampak sebagai bangunan dengan penjual tanpa pengunjung.

Segelintir jamaah beraktivitas; mulai dari beribadah, bersantai hingga swafoto bersama keluarga. Di bundaran air mancur area pelataran, tampak dua pemuda sedang bercengkerama sembari berswafoto. Mereka adalah Randi dan Najib, sepasang sahabat yang dengan sengaja datang ke MAJT untuk salat zuhur.

Najib bercerita suasana Masjid memang sepi semenjak pandemi di awal Maret 2020. “Sudah sepi sejak awal pandemi, semuanya serba prokes, jamaah juga kadang enggak penuh satu saf,” ujarnya, kemarin.

Kota Semarang memang sudah beberapa kali melakukan pembatasan kegiatan masyarakat yang berimbas pada diperketatnya semua tempat publik. Terbaru, Pemkot Semarang memperpanjang PPKM hingga 8 Februari 2021.

Baca juga:  Keindahan Tersembunyi Kali Ndayung, Surga Wisata Alam di Kaki Gunung Muria

Beni Arif Hidayat, Humas Masjid Agung Jawa Tengah membenarkan apa yang telah disampaikan Najib. Dengan suara agak serak, ia menyampaikan MAJT sudah lama sepi. Pihaknya menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam semua aktivitas.

Tak pernah ia bayangkan akan berada pada kondisi di mana manusia dipaksa keadaan untuk saling berjauhan. Walau demikian, Beni mengaku harus terus mengelola MAJT dengan segala keterbatasan yang ada. Baginya, apa pun musibah yang mendera, kegiatan ibadah dan kajian keagamaan tidak boleh terhenti.

“Kegiatan keagamaan akan terus ada, walaupun dengan peserta terbatas. Kajian harian kami masih aktif sampai saat ini, tentu yang datang hanya sedikit, sisanya menyimak via online,” jelasnya.

Baca juga:  Keindahan Tersembunyi Kali Ndayung, Surga Wisata Alam di Kaki Gunung Muria

Beni dan seluruh karyawan pengelolaan MAJT sepakat untuk tetap melanjutkan aktivitas peribadatan dengan protokol kesehatan ketat dan tentunya patuh pada imbauan pemerintah. Beni bercerita, jamaah yang datang ke MAJT jumlahnya menurun drastis—sekitar 60% penurunan sejak Covid-19 melanda.

Saf terbanyak hanya diisi sampai pada baris kelima ketika salat jumat. Saat salat fardu lima waktu, kadang hanya diisi satu sampai dua saf saja. Pada pukul 21.00, Beni akan menutup gerbang Masjid untuk umum, dan baru akan dibuka kembali menjelang azan subuh berkumandang.

Baca juga:  Keindahan Tersembunyi Kali Ndayung, Surga Wisata Alam di Kaki Gunung Muria

Kemungkinan gerbang akan dibuka pada malam hari jika ada peziarah yang hendak mampir ke MAJT menggunakan bus. Selain itu, tidak diperkenankan.

“Toko di sekitar Masjid juga ikut terkena imbas, jadi sepi. Untuk itu, kami memberikan keringanan infaq kepada mereka agar tidak terlalu terbebani dengan kondisi yang ada,” lanjut Beni.

Kini, Masjid yang menjadi ikon Provinsi Jateng itu sedang dilanda kegersangan. Masjid yang berdiri gagah di atas tanah seluas 10 hektare itu dipaksa membatasi pelayanannya pada Hamba Allah yang ingin beribadah. Alasannya satu: kemaslahatan umat.  (cr2/abu)