Pati  

Sesalkan Rencana Impor Garam

Salah satu tambak petani garam di Desa Lengkong
KONDISI: Salah satu tambak petani garam di Desa Lengkong Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, belum lama ini. (ACHWAN A./JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Merebaknya wacana impor 3,5 Juta ton garam yang akan dilakukan pemerintah tahun ini dikeluhkan petani tradisional. Pasalnya harga garam hasil produksi mereka terancam semakin hancur di pasaran. Selain itu, garam konvensional dalam negeri tak akan mampu bersaing dengan barang impor jika rencana tersebut dilanjutkan.

Usman (32), petani garam asal Desa Lengkong Batangan mengungkap impor garam yang akan dilakukan pemerintah jelas akan berpengaruh bagi petani. Garam mereka yang sebelumnya sudah kalah dari produk industri akan semakin terpuruk. “Waktu pertengahan kemarau saja harga garam biasanya turun, karena jumlah hasil produksi yang melimpah dari petani, apalagi mau impor, jelas harganya akan turun,” terangnya kemarin.

Ia menjelaskan, harga garam tradisional dengan kualitas paling baik saat ini berkisar Rp 500 per kilogram. Meskipun awal kemarau seperti saat ini semestinya harga garam bisa lebih tinggi karena jumlah stok barang yang masih sedikit. “Petani di sini banyak yang mengeluh dan masih banyak yang enggan memproduksi. Penyebabnya pemerintah mau impor garam, dan khawatirnya lagi di pertengahan kemarau nanti harga garam akan anjlok drastis,” paparnya.

Usman menambahkan, jika harga garamnya terpuruk petani akan bernasib suram. Hasil produksi melimpah, namun tak laku di pasaran. “Petani hanya bisa memproduksi garam, kalau urusan harga kan pemerintah yang mengatur. Kami hanya bisa berharap pemerintah dapat menyerap hasil garam petani dan tidak impor,” katanya.

Di pihak lain, Johanes Handoko, Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan (P3KP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati menilai, memasuki musim kemarau 2021 semangat petambak garam di Kabupaten Pati untuk beroperasi turun. Hal tersebut diakibatkan wacana impor yang akan dilakukan pemerintah merebak sejak awal tahun.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, semestinya mulai Mei para petani garam sudah memadati tambak produksinya. Hal tersebut biasanya menjadi rutinitas tiap tahun. “Situasi ini memperlemah daya produksi para petambak garam. Dari hasil pemantauan kami di lapangan mestinya ini kan sudah produksi, tapi ini belum banyak,” ujarnya.

Meskipun ia juga menyampaikan kebijakan impor tersebut, pada dasarnya tak akan mengurangi harga dan serapan terhadap garam lokal di pasaran. Sebab garam impor yang dimaksud adalah jenis spesifikasi industri yang digunakan untuk produksi kosmetik dan obat-obatan. Sementara garam rakyat digunakan untuk konsumsi bahan pangan.

Namun, lanjutnya, jika tak ada kontrol yang ketat dari pihak terkait garam impor industri kerap dijadikan campuran garam konsumsi. “Ada juga oknum perusahaan besar yang mengolah garam impor dicampur garam konsumsi masuk ke ritail dikemas dengan bagus hingga menyaingi produk garam lokal, kasihan petambak lokal. Karena masuk ke pasar, walaupun cenderung untuk konsumsi menengah ke atas, aslinya tidak boleh,” pungkasnya. (cr4/gih)