Penguatan IPA dengan Inkuiri Kognisi Siswa Sekolah Dasar

Oleh: Kustina Meli Primawati, S.Pd
Guru SDN 1 Banget, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus

PROSES pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Namun, selama ini berdasarkan pengamatan dalam proses pembelajaran, pada umumnya guru kurang memperhatikan pendekatan dan model mengajar yang seharusnya digunakan. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada. Seharusnya pendekatan dan model yang digunakan harus berdasarkan pada perkembangan mental atau kognisi anak SD.

Pada saat mengajar pembelajaran IPA, seorang guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu model pembelajaran saja, tetapi sebaiknya menggunakan model yang bervariasi agar proses belajar menarik perhatian siswa. Pembelajaran yang tidak membosankan dan menarik perhatian siswa akan mempengaruhi tujuan belajar yang akan dicapai.

Menurut jurnal hasil penelitian yang dilakukan oleh Tias, (2017) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai bagian dari pendidikan di SD dapat dipandang sebagai tahap awal dalam upaya formal untuk memberikan bekal kepada murid. Lebih lanjut, disebutkan bahwa betapa pentingnya pendidikan IPA di SD yang akan menjadi dasar bagi perkembangan anak-anak selanjutnya, dan sebagian dari mereka merupakan satu-satunya pendidikan formal yang akan mereka peroleh selama hidupnya.

Pembelajaran IPA di SD merupakan disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting. Pendidikan IPA di SD diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupannya sehari–hari. Proses pembelajaran IPA harus menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung oleh peserta didik untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar, yang pada akhirnya mereka menemukan sendiri konsep materi pelajaran yang sedang dipelajarinya.

Soal-soal evaluasi yang diberikan masih terfokus pada aspek kognitif tingkat rendah, sehingga siswa cenderung mengikuti pendapat guru dan kurang berani mengeluarkan ide-ide pendapat selama proses pembelajaran. Selain itu, ketika guru memberikan pertanyaan pada siswa, siswa kurang dapat memberikan alasan berkaitan dengan jawaban yang diberikan. Jawaban yang diberikan kepada siswa hanya sebatas hafalan yang diingat, tanpa memiliki suatu konsep yang mendasar. Hal tersebut akan berpengaruh pada hasil belajar siswa yang rendah.

Salah satu model pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat secara aktif dalam menentukan fakta-fakta yang dilihat dari lingkungan adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu rangkaian belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara kritis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan dengan penuh percaya diri.

Dalam pembelajaran di Sekolah Dasar, seorang guru bertugas untuk membimbing para siswa dalam pembelajaran. Seorang guru harus dapat menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai pada materi pelajaran, karena pemilihan strategi pembelajaran yang tepat merupakan suatu alternatif dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran, agar siswa dapat mudah memahami apa yang dipelajari.

Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri, siswa dapat memperhatikan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung, lebih tertarik untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehingga mampu untuk menemukan sendiri konsep-konsep dalam memecahkan masalah. Siswa mampu memahami materi-materi yang diberikan guru dengan begitu siswa mampu menjawab saat diberikan pertanyaan oleh guru serta kegiatan yang sangat menarik, tidak membosankan, siswa menjadi aktif belajar dan memperoleh pelajaran yang bermakna. (*)