Oleh: Siti Mukaromah,S.Pd.SD
Guru SDN 08 Purwoharjo, Kec. Comal, Kab. Pemalang
MENURUT Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan budaya dan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif di bawah bimbingan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupan di kelas, sekolah ,dan masyarakat (Hasan, 2012: 9).
Sejarah adalah suatu studi yang telah dialami manusia di waktu lampau dengan dan yang telah meninggalkan jejak-jejak pada masa lampau dan yang telah meninggalkan jejak-jejak pada masa sekarang. Mempelajari sejarah juga mempunyai kontribusi yang sangat besar karena dengan mempelajari sejarah dapat mengembangkan kesadaran sejarah, sehingga nilai-nilai yang ada di dalam sebuah peristiwa sejarah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan pemahaman akan pentingnya masa lalu demi masa depan. Kesadaran sejarah juga merupakan bagian dari pendidikan karakter.
Pembelajaran sejarah di tingkat sekolah dasar tidak berdiri sendiri tapi tergabung dalam tematik sehingga keluasan materi tidak didapatkan. Hanya mengenal nama dan tempat-tempat sejarah. Dalam meningkatkan kompetensi, guru perlu adanya pembelajaran sejarah yang detail sehingga anak bisa lebih mengenal dan tumbuh rasa cinta terhadap bangsa.
Pendidikan karakter membutuhkan teladan hidup (living model) yang hanya bisa ditemukan dalam pribadi para guru khususnya guru sejarah (Munip, 2009: 3). Pendidikan karakter pada pembelajaran sejarah memerlukan guru yang dapat menyampaikan makna atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena tanpa guru, dalam hal ini guru sejarah perlu menggali kembali nilai-nilai yang ada pada pembelajaran sejarah sebagai pijakan untuk menumbuhkan dan mengembangkan karakter bangsa yang sudah pudar. Pembelajaran sejarah yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran sejarah yang berbasis karakter bangsa, karena pembelajaran sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat mengembangkan karakter bangsa sehingga dalam penyampaian materi pada pembelajaran sejarah harus bermakna sehingga dapat mendorong dan memotivasi siswa agar mempunyai karakter yang lebih baik.
Kendala utama dalam menanamkan dan mengembangkan pendidikan karakter melalui pembelajaran sejarah adalah sebagai berikut. (1) Kurangnya keterampilan guru dalam merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tematik yang bermuatan pendidikan karakter. (2) Kurang optimalnya guru dalam memanfaatkan media atau sumber pembelajaran yang memperkuat pencapaian tujuan pembelajaran bermuatan pendidikan karakter. (3) Kurangnya pemahaman dan keterampilan guru dalam mengembangkan asesmen alternatif pada proses penilaian. Penilaian yang selama ini dikembangkan hampir seluruhnya ditujukkan hanya semata-mata melihat hasil belajar ranah kognitif. Sementara penilaian sikap sebagai asesmen alternatif sangat jarang dikembangkan.
Dengan demikian, setiap pembelajaran sejarah perlu menetapkan karakter yang akan dikembangkan sesuai dengan materi yang kontekstual dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, metode pembelajaran bervariasi yang dapat mendorong dan memotivasi siswa ke arah lebih baik, media dan sumber pembelajaran yang relevan dengan karakteristik siswa, evaluasi penilaian yang bervariasi misalnya menggunakan penilaian alternatif pada penilaian pembelajaran yang berbasis karakter, dan melakukan penilaian tindak lanjut terhadap. Guru diharapkan untuk mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang baik, terutama media pembelajaran sejarah yang lengkap.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang jelas antara pembelajaran sejarah terhadap karakter siswa. Walaupun masih rendah kontribusinya terhadap karakter siswa tetapi pembelajaran sejarah mempunyai potensi besar untuk dijadikan salah satu wahana penanaman dan pengambangan karakter siswa. Selain itu, guru mempunyai peran penting dalam menanamkan dan mengembangkan karakter siswa. (*)








