UMKM  

Modal Nekat, Tak Takut Buka Usaha

YAKIN: Owner Omah Ayam Pida sedang menunjukkan produk ayam gepreknya di depan outletnya, Rabu (16/3/22). (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

Tak banyak orang senekat Afryda Afryana. Ia berani membuka usaha padahal tak punya modal.

BISNIS produk makanan pedas memang diminati banyak orang. Termasuk Afryda Afryana. Sesuai dengan hobinya, Afryda mencoba buka usaha serba cabai.

Alhasil, ia berbisnis kuliner ayam geprek dengan label Omah Ayam Pida yang berlokasi di  Kelurahan Ngelowetan RT 03/RW 01, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak. Kini, bisnisnya berhasil meraup keuntungan yang lumayan.

Pida, sapaan akrabnya mengatakan, dirinya sudah memiliki keinginan berbisnis ayam geprek sejak lama. Di tambah, ia menekuni dunia kewirausahaan saat duduk di bangku perkuliahan. Dari situ, Pida merasa harus berwirausaha ketika pulang ke kampung halamannya.

“Mulai dari situ, emang hobi ya (berwirausaha). Saking kreatifnya aku, ingin menyalurkan hobinya. Kemudian, inspirasi punya usaha geprek saat kuliah suka makan ayam geprek. Karena, melihat peluang di desa ku enggak ada usaha geprek, saya memberanikan membuka,” ujar Pida sambil tersenyum, Rabu (16/3).

Ia menceritakan, dirinya berani membuka ayam geprek bermodal nekat dan tidak memiliki modal sama sekali. Berangkat dari kenekatannya, Pida mampu bertahan sampai sekarang.

“Percaya enggak percaya, awalnya saya enggak ada modal. Hanya nekat saja, dan yakin. Tiba-tiba ada pertolongan, benar-benar bukan uang tabungan. Tapi bisa buka usaha hampir Rp 10 juta. Berawal dari niat dan nekat itu, pada 24 Desember 2021 resmi dibuka hingga sekarang,” ucapnya.

Pida juga membeberkan, ciri khas ayam geprek miliknya, yakni menyajikan menu ayam geprek dengan sambal dicampur. Selain itu, pengemasan menarik menjadi strategi utama bisnisnya.

“Kebanyakan geprek lainnya sambalnya di atas, tapi punya ku dicampur. Selain itu, saya sempat berinovasi buat ayam geprek keju. Kemudian, setahu saya jualan ayam geprek umumnya, pengemasannya hanya pakai sterofom. Nah, aku udah menggunakan packaging menarik,” jelasnya.

Alasan pengemasan menarik diutamakan, ia mengungkapkan karena sasaran jualannya tidak di sekitar kampung halaman saja, melainkan tergetnya agar instansi lain bisa melirik dagangannya.

“Kedepannya, sasaran tidak masyarakat biasa. Tapi, Omah Ayam bisa masuk ke kantor-kantor. Karena, target tersebut sering digunakan untuk acara. Jadi, utamanya packaging lebih menarik. Kedua, saya menilai orang selain rasa, juga visualnya,” tuturnya.

Dalam menjalankan usaha itu, Pida juga mengalami lika-liku. Salah satunya, aturan pembatasan yang diterapkan pemerintah membuat usahanya lesu. Sebab, saat itu dirinya hanya meraih omzet sekitar Rp 400 -500 ribu per hari. Sehingga, ia harus buat strategi guna membangkitkan usaha ayam gepreknya yang terkena dampak tersebut.

“Ada PPKM, omzet langsung menurun. Ya gimana lagi, harus buat strategi baru. Mau enggak mau harus belajar menyusun keuangan, strategi pengembangan usaha. Alhamdulillah, sekarang bisa memiliki outlet baru,” ucapnya.

Saat disinggung capaian bisnisnya, ia memaparkan dari hasil kerja kerasnya cukup memenuhi kebutuhan pribadinya hingga keluarganya. Karena itu, Pida berpesan kepada anak-anak muda yang masih bingung cari pekerjaan jangan takut keluar dari zona nyaman. Meskipun tidak sesuai dengan jurusannya dan jangan gengsi. (dik/gih)