PATI, Joglo Jateng – Wayang Batok merupakan inovasi dari wayang golek yang ada di Tanah Air. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan ingatan publik tentang tradisi asli dari Lereng Gunung Muria.
Salah satu pelaku budaya asal Kabupaten Pati, Ratna Anggraheni (54) menciptakan wayang batok untuk mengingat tradisi asli lereng muria. Menurutnya, wayang batok merupakan pembaharuan dari wayang golek yang ada.
“Karena wayang golek aslinya dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sehingga, saya ingin mengembalikannya kembali. Akan tetapi di kemas dengan bentuk yang berbeda menggunakan batok kelapa,” paparnya, Senin (24/5).
Ia memiliki keinginan agar tradisi seperti ini masih terjaga. Karena sekarang banyak orang yang melakukan perubahan ke digital. Selain itu, wayang batok akan diarahkan ke tradisi yang semula ada. Menurut penjelasan budayawan satu ini, asal muasal wayang golek penemuannya Sunan Muria.

“Dari catatan sejarah kesenian tradisi ini dari Jawa Tengah dan jelas ada literasinya. Tapi sekarang haknya di Jawa Timur. Karena, selama ini publik tidak mengerti asal mulanya,” terangnya.
Pihaknya menceritakan, wayang golek sampai ke Daerah Sunda, dibawa oleh besannya Sunan Muria ke Cirebon. Kemudian di Cirebon dipentaskan menjadi wayang cepak. Dengan memperbarui wayang golek yang ada di Kudus.
“Disebut wayang cepak karena kepala kotak datar. Dari situ diperbarui lagi oleh Ki Kusumo, yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Bandung. Sehingga menjadi wayang golek yang sekarang ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, kesenian tersebut akhirnya berkembang menjadi wayang golek modern dan wayang golek pakuan dari Bogor. Inovasi-inovasi tersebut, membuat dirinya ingin masyarakat tahu bahwa Kudus sebagai penemu tradisi ini.
“Saya coba mengingatkan walaupun saya bukan orang Kudus, tetapi masih satu lereng muria. Secara spesifik perbedaan wayang golek dan wayang batok tidak ada. Jadi, secara bentuk juga hampir sama semua,” ungkapnya.
Selain itu, ia menuturkan, perbedaan yang menonjol antara wayang batok dan wayang golek ialah dari sudut cerita. Lalu untuk tema yang diambil sangat menonjol sekali. Kalau wayang golek identik dengan orang Sunda, cerita Pajajaran, atau seputar Daerah Sunda.
“Jadi kalau kita bawa cerita Sunda ke Pati itu sulit dipahami. Sebagai penggemar literasi, saya ingin itu dapat mempublikasikan yang saya miliki. Kenapa saya tidak bisa membuat itu, sebagai pelaku budaya saya ingin menceritakan langsung lewat yang saya kerjakan,” tandasnya. (cr7/fid/ziz)










