Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi Anak Usia Dini

Oleh: Suminah, S.Pd.
Guru TK Negeri Pembina, Kec. Gajah, Kab. Demak 

TUJUAN pendidikan agama adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketaqwaan. Pendidikan adalah persoalan tujuan dan fokus mendidik anak berarti bertindak dengan tujuan agar mempengaruhi perkembangan anak sebagai seseorang yang utuh.

Selamat Idulfitri 2024

Fungsi pentingnya pendidikan agama yaitu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya, kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai tingkat perkembangannya. Ajaran agama hendaknya ditanamkan sejak dini. Sebab, pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Orang tua terkadang memiliki kendala dalam mendampingi anak. Salah satu bentuk metode pembelajaran yang sering kita jumpai adalah metode montessori yang diciptakan Dr Maria Montessori. Metode ini dikenal efektif dalam mengajarkan pendidikan anak usia dini dengan konsep yang menjadikan anak sebagai independent learner. Metode ini terdiri tiga aspek pentin. Pertama, kebebasan. Anak diberi ruang bebas untuk mengembangkan dirinya sendiri. Kedua, struktur dan keteraturan, dimana dalam penerapannya anak diberi peraturan yang runtut dan tidak mengekang sehingga anak memiliki ruang bebasnya sendiri. Ketiga, kealamian dan realistis. Prinsip ini dirancang sedemikian rupa agar lingkungan anak dapat sealami sesuai dengan norma yang berada di lingkungannya.

Menurut Hurlock (1999), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua, yaitu karakteristik orangtua yang berupa kepribadian orangtua berbeda yang setiap orang berbeda dalam tingkat energi, intelegensi, sikap, dan kematangan. Karakter orang tua yang berbeda dapat menjadikan orang yang memiliki tingkat yang berbeda dalam mendapatkan pendidikannya. Belum lagi karakter anak yang berbeda dalam menangkap serta mengamalkan ilmu yang didapat. Tidak jarang anak sangat sulit untuk diajarkan terkait agama terlebih melihat kondisi perubahan zaman yang sangat pesat. Tentunya, hal ini akan menjadi tugas yang cukup berat bagi orangtua dalam membimbing anaknya dalam pendidikan agama dan nilai-nilai keamanan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Penanaman nilai agama di TKN Pembina Kecamatan Gajah antara lain setiap pagi setelah berdoa selalu membaca Asmaul husna bersama. Setiap hari jumat selalu diadakan infak untuk menanamkan anak biar selalu bersedekah dan diadakan latihan sholat bersama. Selain itu, penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam pada anak yaitu nilai–nilai keimanan. Pembentukan iman harus diberikan sejak kecil sejalan dengan pertumbuhan kepribadian, memperkenalkan nama Allah dan Rasul-Nya, memberi gambaran tentang siapa pencipta alam raya ini melalui kisah-kisah teladan. Memperkenalkan ke-Maha-Agungan ALLAH SWT. Nilai-nilai akhlak yang akan ditanamkan pada anak adalah mempunyai kesadaran dalam menjalankan perintah-perintah-Nya, sopan, berbuat baik kepada sesama.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Upaya-upaya tersebut diatas diharapkan diimplementasikan oleh orangtua dalam mendidik anaknya dalam segi pendidikan agama dan moralitas. Orang tua tetap harus mengawasi perkembangan anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang paham terutama dari segi agama. Kelalaian orangtua terhadap pendidikan agama dapat berpengaruh besar bagi anak. Banyak anak melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma agama karena kurang efektifnya pendidikan agama yang diterima.

Orangtua tidak boleh terlalu mengekang anak dalam bersikap dan bertindak karena itu hanya akan membuat semakin frustasi dan melakukan tindakan diluar ekspektasi. Sebagai orang tua, seharusnya dapat menyampaikan ilmu yang baik, mendengarkan sang anak, memberitahu hal yang baik dan buruk, dan terus memberi kepercayaan kepada mereka, maka dengan sendirinya anak akan bertingkah laku sesuai dengan porsinya. (*)