Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Membiasakan Hidup Bergotong Royong melalui Metode Tutor Sebaya

Oleh: Ida Winarti, S.Pd
SDN 02 Samong, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

KESADARAN tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik di masa mendatang, telah mendorong berbagai upaya dan perhatian dari pemerintah, komponen pendidikan, serta seluruh lapisan masyarakat terhadap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Menurut Nanang Fattah dan H Mohammad Ali (MBS: 1.3), pendidikan mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, mengubah perilaku serta meningkatkan kualitas hidup.

Selamat Idulfitri 2024

Proses pendidikan di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta meningkatkan derajat sosial masyarakat bangsa. Hal tersebut perlu dikelola, diatur, dan diberdayakan, agar dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Dengan kata lain, sekolah sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan, merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur saling berkaitan tentunya memerlukan pemberdayaan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Muhammad Nu’man Somantri (2001:154) mengemukakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan bela negara, agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

PKn merupakan bagian dari ilmu pendidikan sosial (IPS) yang dipersiapkan untuk membekali peserta didiknya dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara. Hal tersebut dilaksanakan melalui proses pembinaan dan pembelajaran, agar menjadi warga negara yang baik, iman, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki nasionalisme, sadar serta mampu melaksanakan hak dan kewajiban sebagai manusia, taat pada ketentuan (rule of law), demokratis dan partisipatif, aktif serta kreatif dalam kebinekaan kehidupan masyarakat-bangsa-negara madani (civil society) yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kehidupan yang terbuka, mendunia (global) dan modern tanpa melupakan jati diri masyarakat bangsa dan negaranya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Salah satu metode yang mampu membuat suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan ketika siswa mempelajari materi pelajaran adalah metode diskusi kelompok model tutor sebaya. Melalui metode ini, siswa dapat berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru. Sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai Standar Kompetensi (SK) yang telah ditetapkan. Diskusi kelompok terbimbing dengan model tutur sebaya merupakan kelompok diskusi yang beranggotakan 5-6 siswa pada setiap kelas di bawah bimbingan guru mata pelajaran. Tutor sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan model tutor sebaya, diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi, sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik. Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 22 siswa, berarti ada 4 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon tutor.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa. (*)