UMKM  

Raup Puluhan Juta kala Pandemi, Kini Mulai Sepi

KOLEKSI: Supriyanto saat sedang berjualan di Aloon-aloon Masjid Agung Semarang, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

Ikan hias mungkin tak kenal musiman. Namun saat pandemi, ikan hias seperti cupang sedang naik daun karena orang butuh hiburan di rumah. Sekarang, penjual mulai merasakan omzetnya turun drastis.

IKAN cupang menjadi salah satu jenis ikan hias peliharaan yang sempat viral dan digemari masyarakat di masa pandemi Covid-19 beberapa waktu nlalu. Kebijakan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan tuntutan bekerja dari rumah membuat ikan cupang dicari banyak orang sebagai alternatif hobi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Supriyanto, penjual cupang asal Semarang yang meraup omzet penjualan hingga puluhan juta perbulan di masa pandemi. Pria berusia 31 tahun itu menuturkan, kisaran 2020 hingga 2021, penjualan ikan cupangnya laris manis. Namun, setelah pandemi mulai melandai, penghasilan yang didapatkan menurun drastis.

“Sangat beda penghasilannya, pas pandemi dulu sampai puluhan juta (perbulan). Seminggu ada lah tiga jutaan, itu dari jual offline sama online. Lha ini perbulan kisaran dua jutaan, itu aja masih kotor,” ujarnya saat ditemui sedang berjualan di Aloon-aloon Masjid Agung Semarang , belum lama ini.

Menurutnya, hasil penjualan ikan cupang yang mulai sepi ini disebabkan oleh aktivitas masyarakat yang kembali normal. Berbeda dengan pandemi, di mana orang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah.

Selain itu, faktor lainnya yaitu sejak masa pandemi bisnis ikan cupang sudah menjamur. Sudah banyak masyarakat yang membudidayakannya dan menjadikannya koleksi sehingga harga di pasaran juga mulai turun.

“Dulu pas pandemi dicari banyak orang emang mahal, lalu satu setengah udah anjlok. Sekarang udah beda, udah ga bisa kaya dulu, sekarang relatif murah,” lanjut Yanto, sapaan akrabnya.