Pengrajin batik tidaklah mudah. Selain dibutuhkan kejelian dalam membuat motif, pengrajin harus paham soal pasar.
BATIK menjadi salah satu produk kerajinan yang cukup dilirik pasar. Selain memiliki bergaram corak warna, batik juga terkenal dengan harganya yang terbilang mahal.
Demi menarik konsumen dengan budget terbatas, Narmisih salah pengrajin Batik Bakaran membuat inovasi. Yakni dengan menciptakan motif sederhana supaya tidak memakan waktu pembuatan.
“Batik paling mahal itu dengan motif sidomukti, soalnya dulu ada klowongannya. Tapi sekarang tidak, supaya pembuatan lebih mudah sehingga harganya murah. Kalau aslinya dulu semua pakai klowongan,” kata Narmisih, belum lama ini.
Dia mengungkapkan, harga batik motif sidomukti bisa mencapai Rp 900 ribu dengan ukuran 2,60 kali 150 centimeter. Sedangkan untuk memenuhi permintaan konsumen, ia mengembangkan batik dengan harga murah.
“Kalau saya sering jual paling murah itu seharga Rp 125 ribu. Seharga itu motifnya sedikit-sedikit, penempatan jarak satu ke garis lainnya itu agak jauh,” ucapnya.
Meskipun begitu, dirinya masih membuat pola sedetail mungkin. Hal itu guna tetap menjaga keindahan corak yang dibuatannya.
Inovasi itu dilakukan demi menyesuaikan permintaan dan budget para pelanggan. Tak hanya harga murah, batik buatan Narmisih juga mengikuti trend. Sehingga, tidak monoton dengan corak tertentu.
Dirinya berharap supaya batik buatannya bisa semakin laris dalam negeri dan bisa tembus pasar mancanegara. Meskipun, dirinya sekarang masih memesarkan manual di rumah dan belum menjual batik buatannya secara online. (lut/gih)










