Keberagaman budaya Nusantara perlu dilestarikan, agar menciptakan kerukunan. Event-event yang dilihat banyak penonton perlu memberi contoh kepada masyarakat.
ADA yang berbeda dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-473 Kabupaten Kudus beberapa waktu lalu. Barongsai Satya Dharma dari Klenteng Hok Hien Bio diiringi Suluk Tajuk Menara membuat penonton terpukau. Kolaborasi itu diharapkan menjadi semangat keberagaman di Kota Kretek tersebut.
Ketua Federasi Olahraga Beladiri Indonesia (Fobi) Reza Adrianto mengatakan, pertunjukkan pada acara HUT kali ini cukup berbeda. Menurutnya, dengan adanya kolaborasi dengan Suluk Tajuk Menara membuat energi positif keduanya melebur dan menjadi satu. Sekaligus disambut oleh antusiasme masyarakat, sehingga pertunjukkan lebih menarik untuk ditonton.
“Kolaborasi dengan Suluk Tajuk Menara sebagai musik, tentunya membuat pertunjukkan kami lebih menarik. Kami saling bertukar energi dan menyatu satu sama lain,” ujar Reza usai pementasan, belum lama ini.
Ia juga mengaku dengan latihan yang dijalani oleh tim Barongsai Satya Dharma dapat berjalan dengan baik. Meskipun latihan yang dilakukan hanya tiga kali percobaan, namun dapat mengiringi alunan musik yang dimainkan oleh Suluk Tajuk Menara.
Sementara itu, terdapat 35 anggota Barongsai Satya Dharma dari Klenteng Hok Hien Bio turut menyemarakkan HUT ke-473 Kabupaten Kudus. Reza menambahkan, terkait nilai filosofi pertunjukkannya merupakan keberagaman yang berjalan beriringan. Alunan Suluk Tajuk Menara dielaborasikan musik Tionghoa sekaligus tarian naga tampak mempesona.
Reza berharap agar masyarakat selalu menjaga keberagaman. Menciptakan Kudus yang kondusif, serta kelimpahan berkah dan dijauhkan dari segala malapetaka.
“Semoga banyak masyarakat menyukai kita, bahkan masyarakat ikut bergabung dengan kita. Karena kita di sini sudah masuk ke olahraga. Selain budaya kita juga sudah menginduk di KONI, dipersilahkan masyarakat Kudus yang mau ikut bergabung, monggo,” katanya. (cr3/gih)










