Terburuk dalam Setengah Abad; Kronologi dan Cerita di Balik Tragedi Kanjuruhan

RIUH: Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam, 01/10/2022. (ANTARA/JOGLO JATENG)

DATA terbaru menunjukkan korban tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur semakin bertambah. Sampai saat tulisan ini dinaikkan, setidaknya ada 174 orang tewas dan 180 luka-luka dalam kerusuhan yang terjadi pada Sabtu (1/10) kemarin.

Penyerbuan dan kerusuhan seusai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam BRI Liga 1 2022 ini menjadi bencana stadion terburuk di dunia.

Sebelumya, pernah terjadi juga peristiwa berdarah di stadion yang menewaskan hingga 320 orang serta lebih dari 1.000 orang terluka. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1964 di kualifikasi Olimpiade Peru-Argentina di stadion nasional Lima.

Tragedi Kanjuruhan di Malang kembali menorehkan peristiwa hitam dalam dunia olahraga, khususnya sepakbola. Padahal, seperti yang sudah berulangkali dikatakan bahwa “Tidak ada sepakbola yang seharga nyawa”.

Akan tetapi, kecintaan terhadap tim kesayangan serta berada dalam gelombang massa, membuat dukungan terhadap tim berubah menjadi sebuah “harga diri” yang tak tertandingi.

Kekalahan 2 – 3 Arema FC tehadap Persebaya Surabaya semakin membuktikan bahwa di negeri ini, sepakbola adalah harga dan nyawa bersama.

Tragedi Kanjuruhan bermula ketika suporter tuan rumah yang kecewa tim kesayangan kalah, menerobos masuk ke dalam lapangan. Dari cerita kronologi yang dicuitkan oleh akun twitter @RezqiWahyu_05 mengatakan, kericuhan terjadi setelah para petugas keamanan menembakkan puluhan gas air mata kea rah kerumunan supporter, bakan ke arah tribun.

Upaya pengendalian massa tersebut justru membuat peristiwa menjadi semakin tragis. Penyerbuan semakin tak terkendali, supporter lainnya sesak oleh gas air mata dan bahkan mati lemas.