Terburuk dalam Setengah Abad; Kronologi dan Cerita di Balik Tragedi Kanjuruhan

RIUH: Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam, 01/10/2022. (ANTARA/JOGLO JATENG)

Hal ini bukan tanpa alasan, menurut @RezqiWahyu_05, penyerbuan tersebut dilakukan setelah pihak kemanan memukul mundur supporter yang masuk ke lapangan dengan cara yang dianggap melukai. Seperti memukul dengan tongkat panjang, dihantam tameng, dan lain sebagainya. Bahkan, @RezqiWahyu_05 juga menuliskan jika ada salah seorang supporter yang dikeroyok oleh pihak keamanan.

Mengetahui kejadian tersebut, supporter lain tak terima dan kembali menyerbu pihak kemanan. Situasi semakin pecah, gas air mata terus ditemabakkan, penonton saling berdesakan untuk keluar dari stadion, tapi tak bisa. Penumpukan penonton terjadi di semua pintu stadion, sehingga membuat situasi semakin sesak. Banyak penonton yang terdorong, terlempar, sesak bahkan terinjak-injak.

Di luar stadion tak kalah pilu. @RezqiWahyu_05 menceritakan bahwa tembakan gas air mata juga terjadi di luar stadion. Suara jeritan dan tangisan para wanita dan anak kecil terdengar di banyak sisi. Amarah, makian, batu bata, besi dan bambu berterbangan di lokasi tersebut.

Salah satu Kepala Rumah Sakit yang merawat korban, melalui siaran televisi di Metro TV mengatakan bahwa sejumlah korban mengalami cedera otak. Bahkan terdapat korban tewas yang usianya baru lima tahun.

Akibat peristiwa ini, BRI Liga 1 2022 ditangguhkan untuk sementara. Presiden Joko Widodo mengatakan dalam konferensi persnya, pihak berwenang harus mengevaluasi kemanan pertandingan secara menyeluruh.

“Tragedi sepak bola terakhir di negara ini,” ungkapnya, Minggu (2/10).