Terburuk dalam Setengah Abad; Kronologi dan Cerita di Balik Tragedi Kanjuruhan

RIUH: Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam, 01/10/2022. (ANTARA/JOGLO JATENG)

Aturan Gas Air Mata

Badan sepak bola dunia FIFA menetapkan dalam peraturan keselamatannya bahwa tidak ada senjata api atau “gas pengendali massa” yang boleh dibawa atau digunakan oleh petugas atau polisi.

Terkait peraturan tersebut, belum ada konfirmasi maupun tanggapan apapun dari pihak kepolisian Jawa Timur serta panitia penyelenggara liga.

Sementara itu, FIFA telah meminta laporan terkait insiden dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sekjen PSSI, Yunus Nusi dalam siaran persnya mengatakan jika sudah ada timnya yang dikirim ke Malang untuk melakukan penyelidikan.

Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia mengatakan kepada Reuters bahwa mereka juga berencana menyelidiki keamanan di lapangan. Termasuk penggunaan gas air mata yang ditembakkan oleh petugas.

“Banyak teman kami yang kehilangan nyawa karena petugas yang merendahkan kami,” kata Muhammad Rian Dwicahyono (22) sembari menangis saat mendapatkan perawatan untuk lengannya yang patah di rumah sakit setempat Kanjuruhan.

“Banyak nyawa yang terbuang,” imbuhnya. (Reuters, 2/10/22)