Karso Optimalkan Minat dan Hasil Belajar IPS

Oleh: Lastriningsih, S.Pd.
Guru IPS SMPN 2 Sukodono, Kabupaten Sragen

SALAH satu barometer tercapainya keberhasilan pembelajaran adalah keaktifan siswa yang ditandai adanya keterlibatan secara optimal baik intelektual, emosional, dan fisik dalam menguasai materi pelajaran. Dalam proses pembelajaran IPS, sering kali guru tidak menggunakan metode yang inovatif, variatif, dan tepat. Sehingga tidak dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru menyampaikan materi pelajaran hanya dengan memberi penjelasan dan penuturan secara lisan, pembelajarannya monoton dengan tingginya peran guru (teacher centered approach).  Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran terbilang minim, dan mereka bersikap apatis terhadap guru. Hal inilah yang menunjukkan motivasi siswa belajar IPS rendah.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru IPS kelas IX B SMP Negeri 2 Sukodono, Sragen dalam pembelajarannya menggunakan media karso, yang merupakan akronim dari kartu soal. Media karso diharapkan dapat memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk terbiasa berpikir kritis dan kreatif. Yakni melalui kajian, analisis, pengamatan, mengekplorasikan pemahaman, serta pengetahuan secara terstruktur dan logis dalam mengembangkan kemampuannya. Terjadinya pembelajaran yang kompetitif dan menyenangkan bisa membawa siswa meningkat hasil belajarnya.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Karso merupakan sarana agar siswa dapat belajar secara aktif terlibat dalam kegiatan belajar, berpikir aktif, dan kritis di dalam belajar dan secara inovatif dapat menemukan cara dan pembuktian teori (Berliana: 2008). Karso biasanya berisi kata-kata, gambar, atau kombinasinya untuk membantu siswa dengan mudah mengingat materi yang diajarkan dengan menerapkan proses belajar kelompok dalam bentuk kegiatan mencatat konsep materi. Kemudian mendiskusikannya untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang dipandang sebagai sumber belajar dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

Menurut Zulfan (2009), penerapan karso merupakan alternatif untuk meningkatkan keefektifan proses dan hasil belajar, dimana prestasi belajar merupakan salah satu hasil dari belajar. Proses pembelajaran menggunakan karso melibatkan semua siswa untuk aktif dan kreatif. Karena bertanggung jawab secara kelompok dan individu terhadap tugasnya masing-masing.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Adapun sintaks pembelajaran IPS dengan media karso adalah sebaga berikut. Pertama, pendahuluan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan penjelasan inti materi pelajaran serta media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Kedua, pelaksanaan. Setiap siswa diberi kertas manila berukuran 10 cm x 15 cm untuk menuliskan soal sesuai materi yang dibahas. Kartu yang telah berisi soal dikumpulkan kembali pada guru. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri atas tiga sampai empat siswa. Salah seorang siswa diminta untuk mengocok kartu soal yang telah berisi pertanyaan kemudian membagikannya secara acak kepada teman-temannya dan masing-masing mendapat satu buah kartu. Setiap kelompok menjawab soal yang telah diterima secara bersama-sama. Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan yang telah didiskusikan di depan kelas dan kelompok lain memberi tanggapan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ketiga, evaluasi dan tindak lanjut. Guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses dan hasil diskusi yang dilakukan dengan memberi feedback. Guru memberikan rujukan kepada siswa untuk belajar lebih lanjut dan PR sebagai penguatan serta mengadakan penilaian secara individu maupun kelompok.

Implementasi media karso sangat berpengaruh secara signifikan dalam pembelajaran IPS. Siswa lebih berantusias bisa berpikir cepat (thinking fast) dalam memahami konsep pembelajaran secara menyeluruh. Selain itu mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) untuk memecahkan permasalahan yang diajukan guru dalam proses pembelajaran. Terciptanya suasana belajar yang interaktif dan produktif sehingga dapat menemukan ide dan gagasan serta pengetahuan baru. Hasil tersebut diperoleh melalui konsep berpikir kritis, analitik, komperehensif, terstruktur, serta mendapat hasil belajar yang optimal. (*)