Meningkatkan Perkembangan Kognitif melalui Permainan Edukatif pada Anak TK

Oleh: Sri Arpuatun, S.Pd
TK Negeri Pembina, Kec. Karanganyar, Kab. Demak

KOGNITIF adalah seluruh kegiatan mental yang membuat suatu individu biasa menghubung, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa. Sebagai akibatnya, individu tadi mendapatkan pengetahuan. Secara makna, kognitif merupakan seluruh kegiatan mental yang membentuk suatu individu mampu menghubungkan, menilai, serta mempertimbangkan suatu insiden. Sehingga individu tersebut menerima pengetahuan setelahnya.

Kognitif tidak bisa dipisahkan menggunakan kecerdasan seorang, Contohnya, kognitif bias ditunjukkan waktu seorang sedang belajar, membentuk sebuah ilham, serta memecahkan persoalan. Teori belajar kognitif adalah metode belajar yang berusaha mementingkan proses belajar dari pada hasilnya.

Teori belajar kognitif pada pembelajaran, seperti berikut. Pertama, persepsi dan pemahaman pada mencapai tujuan belajar memberikan tingkah laris seseorang individu. Kedua, proses belajar lebih krusial dari pada akibat. Ketiga, materi belajar dipisahkan menjadi komponen mungil, lalu dipelajari secara terpisah. Keempat, pada aktivitas belajar dibutuhkan proses berpikir yang kompleks. Kelima, keaktifan peserta didik waktu pembelajaran suatu keharusan.  Demikianlah penerangan singkat mengenahi kognitif yang dihimpun berasal aneka macam asal. Jika anda ingin menguji level kognitif mampu dilakukan pembahasan taksonomi bloom adalah pengelompokan suatu soal sesuai aspek kognitifnya (Views, 158).

Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak. Uang disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serba guna untuk hal-hal sebagai berikut. Pertama, pengembangan aspek fisik. Yaitu kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak. Kedua, pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar. Ketiga, pengembangan aspek kognitif. Yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna, dan lain-lain. Keempat, pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi interaksi antara ibu dan anak, keluarga, dan masyarakat.

Kognitif adalah suatu proses berfikir yaitu kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Potensi kognitif ditentukan pada saat konsepsi. Namun terwujud atau tidaknya tergantung dari lingkungan dan kesempatan yang diberikan. Potensi kognitif yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan yang akan menentukan batas perkembangan tingkat (intelegensi) batas maksimal (Uukumiati, 2012)

Adapun metode yang digunakan dalam peningkatan aspek kognitif melalui permainan edukatif di TK Negeri Pembina adalah metode permainan bermain peran. Yaitu guru menyampaikan cerita atau memberikan penjelasan pada anak secara lisan antara lain bercerita dengan gambar, dengan alat atau tanpa alat dan mengajak anak-anak untuk menonton video yang ada di laptop yang sesuai dengan tema pada hari itu.

Metode bercakap-cakap, guru mengajak anak untuk bercakap-cakap membahas kegiatan pembelajaran pada hari itu. Kemudian guru merangsang anak untuk mengemukakan pendapat tentang kegiatan yang akan dikerjakan. Metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang agar anak aktif untuk berfikir. Melalui pertanyaan guru, anak akan berusaha untuk memahami dan menemukan jawabannya.

Metode pemberian tugas, guru memberikan kegiatan belajar sesuai dengan apa yang sudah dibahas diawal tadi dengan menggunakan alat permainan yang sudah tersedia. Contohnya balok-balok bangunan, bahan alam, botol-batol bekas, biji-bijian, bahan dari plastik, bahan dari kardus bekas, pecahan keramik. Selanjutnya pecahan genting, plastisin, stik es krim, tusuk sate, tutup botol, dan masih banyak alat permainan lainnya. Anak diharapkan dapat menyelesaikan dengan bebas sesuai dengan kreasinya sendiri tanpa harus dibantu oleh guru.

Disini yang diutamakan adalah proses pembuatan apa yang dihasilkan anak tersebut, bukan hasil yang diperolehnya. Upaya-upaya tersebut diatas diharapkan dapat menjadikan anak bisa mandiri, terampil, kreatif sesuai imajinanya sendiri tanpa harus menggantungkan orang lain. Lalu nantinya bisa membuat permainan sendiri yang lebih baik dan menarik yang bisa dimanfaatkan orang lain. (*)