Oleh: Hayuningsih, S.Pd
TK Negeri Pembina, Kec. Karanganyar, Kab. Demak
LOOSE part adalah media material lepas yang penggunaannya dapat beragam-ragam. Artinya, bahan yang dapat dipindahkan, dibawa, digabungkan, dirancang ulang, dipisahkan, dan disatukan kembali dengan berbagai cara. Bahan-bahannya pun juga ada yang mudah ditemukan disekitar lingkungan tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak.
Loose part akan mengantarkan pada kegiatan eksplorasi alami dari dirinya sendiri tanpa paksaan atau perintah dari orang lain. Tentu hal ini sangat bagus untuk perkembangan mereka. Namun tentu saja guru memainkan peran penting dalam mempersiapkan, membimbing dan mendokumentasikan selama proses pembelajaran (Bogunovich T. I. G.J. & Rosengarten, S. L. G. T., 2019).
Kognisi adalah proses mental yang terjadi mengenai sesuatu yang didapatkan dari kegiatan berpikir tentang seseorang atau sesuatu sesuatu. Proses kognisi mencakup kegiatan mental, seperti menemukan, menginterpretasi, memilah, mengelompokkan, dan mengingat (kEillen Allen, 2017). Selanjutnya ia mengutip pendapat Paget yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif adalah proses interaksi yang berlangsung antara anak dan pandangan perseptualnya terhadap semua benda atau kejadian di suatu lingkungan.
Saya sebagai guru kelas kelompok B3 TK Negeri Pembina mengajak anak untuk belajar dengan menggunakan loose part dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Anak diberi kebebasan untuk memilih apa yang mereka suka.
Adapun dalam kegiatan inti, anak diajak untuk bermain di empat Invitasi yang sudah dipersiapkan. Dimana dalam invitasi–invitasi tersebut anak bermain menggunakan bahan-bahan loose part yang sudah ditata sedemikian rupa. Bahan tersebut terdiri dari tujuh komponen. Yaitu pertama, komponen bahan. Seperti batu, tanah, pasir, lumpur, air, ranting, daun, buah, biji, bunga, kerang, bulu, potongan kayu, dan sebagainya.
Kedua, bahan plastik. Contohnya sedotan, botol-botol plastik, tutup-tutup botol, pipa pralon, selang, ember, corong, dan sebagainya. Ketiga, bahan logam. Di antaranya kaleng, uang koin, perkakas dapur, mur, baut, paku, sendok dan garpu alumunium, plat mobil, kunci dsb. Keempat, bahan kayu dan bambu. Misalnya seruling, tongkat, balok, kepingan puzzel, dan sebagainya.
Kelima, benang dan kain. Seperti kapas, kain perca, tali pita, karet, dan sebagainya. Keenam, kaca dan keramik. Contohnya botol kaca, gelas kaca, cermin, manik-manik, kelereng, ubin keramik, dan sebagainya. Ketujuh, bahan kemasan. Misalnya kardus, gulungan tisu, gulungan benang, bungkus makanan, karto wadah telur, gulungan lakban, dan sebagainya.
Loose parts dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan ide anak. Cara bermain di invitasi, anak bebas memilih apa yang mereka suka tanpa ada perintah atau paksaan dari guru. Semua atas inisiatif anak itu sendiri. Guru menjadi fasilitator dan motivator pada anak anak pada saat bermain. Guru menggunakan kalimat-kalimat pemantik dan kalimat terbuka agar anak dapat berfikir lebih luas.
Dalam pembelajaran numerasi anak-anak diajak bermain dan berhitung, penambahan, pengurangan menggunakan bahan loose part yang tersedia. Anak boleh memilih bahan loose part apa yang mereka sukai yang sesuai topik pada hari itu, yang penting bahannya aman dipakai untuk kegiatan atau bermain anak. Di invitasi yang sudah disiapkan, anak bisa belajar menghitung sesuai angka, mengelompokkan sesuai bentuk, sesuai warna, sesuai ukuran, memasangkan sesuai pasangannya. Kemudian penjumlahan dengan menggunakan bahan loose part, pengurangan dengan menggunakan bahan loose part, mengenal perbedaan benda. Lalu mengenal besar kecil, lebih kurang, tinggi rendah, berat ringan, serta mengenal tebal tipis dan seterusnya.
Upaya-upaya tersebut diharapkan agar pembelajaran yang ada di taman kanak-kanak dengan media loose part agar tetap di tingkatkan dan dikembangkan. Karena memang sangat bermanfaat dan berguna bagi anak. Sehingga perkembangan kognitif anak dapat berkembang dengan baik dan optimal. (*)








