Oleh: Yasnimala S.Pd, M.Pd
Guru TK Negeri Pembina, Kec. Karanganyar, Kab. Demak
PARENTING menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah proses interaksi antara orang tua dan anak dalam mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual sejak anak dalam kandungan sampai dewasa. Parenting adalah cara pola asuh mendidik anak bagaimana orang tua memberikan perlindungan, perawatan, dan mengamati perkembangan yang sehat hingga tumbuh dewasa.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pola asuh kepada anak adalah pertama, mengarahkan perilaku positif kepada anak dengan cara memberikan teladan yang baik. Kemudian memberikan pengarahan, dan melakukan pengawasan. Kedua, beri sejumlah pengarahan, tugas ataupun perintah secara bertahap sesuai dengan usia anak.
Ketiga, pilih waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan. Pada pemilihan waktu yang tepat saat memberi arahan, akan lebih efektif sehingga nasihat yang diberikan pun akan sangat berpengaruh. Keempat, ajari anak mengontrol diri. Kelima, ajak berdiskusi. Mendiskusikan hal sederhana bisa dimulai ketika anak beranjak empat tahun, dengan memulai penjelasan permasalahan di dalam aspek lingkup perilakunya.
Namun pada kenyataannya, sebagian orang tua zaman sekarang sering mengabaikan hal- hal pokok diatas. Sejak usia batita, anak sudah diberikan gadget agar tidak ‘rewel’. Atau pengasuhan anak diserahkan kepada orang lain seperti nenek dan pengasuh yang diambil dari luar yang pada akhirnya membentuk kebiasaan anak yang kurang baik. Misal tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi, tidak mandiri, belum bisa bersosialisasi, dan lain-lain yang merupakan hal pokok/utama yang akan dikembangkan di lembaga pendidikan anak usia dini.
Berikut adalah prinsip-prinsip dasar pendidikan anak usia dini. Pertama, bermain sambil belajar. Saat bermain, anak melatih otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan, melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi. Kemudian mengenal matematika, sains, dan juga sebagai pelepasan energi, rekreasi, dan emosi dalam keadaan yang nyaman. Sehingga syaraf otak dalam keadaan rileks. Dengan begitu akan memudahkan anak menyerap berbagai pengetahuan. Nah sementara dirumah sebagian anak-anak lebih banyak bermain sendiri dengan gadget, yang mengakibatkan kurangnya stimulus dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Kedua, berorientasi pada kebutuhan anak. Seluruh kegiatan pembelajaran di rencanakan dan dilaksanakan untuk mengembangkan potensi anak. Ketiga, stimulasi terpadu. Program layanan PAUD dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Dengan cara bekerjasama dengan layanan kesehatan, gizi, dan pendidikan orang tua. Dengan kata lain layanan PAUD Holistik Integratif menjadi keharusan yang dipenuhi dalam layanan PAUD.
Keempat, berorientasi pada perkembangan anak. Yakni dengan memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, dan memberi dukungan sesuai dengan perkembangan masing-masing anak. Kelima, lingkungan kondusif. Lingkungan adalah guru ketiga bagi anak. Anak belajar kebersihan, kemandirian, aturan, dan banyak hal dari lingkungan bermain atau ruangan yang tertata dengan baik, bersih, nyaman, terang, aman, dan ramah untuk anak. Akan tetapi, dirumah sebagian anak-anak selalu dilayani.
Keenam, menggunakan pendekatan tematik. Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik. Tema digunakan sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Ketujuh, pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Ini bertujuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
Kedelapan, menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya. Anak yang terbiasa menggunakan alam dan lingkungan sekitar untuk belajar, dan akan berkembang lebih peka terhadap kesadaran untuk memelihara lingkungan. Disini lah pentingnya program parenting dilaksanakan di PAUD, agar seiring sejalan layanan yang diberikan di sekolah dengan perlakuan pengasuhan anak dirumah. (*)








