Figur  

Semangat Geluti Bisnis Bunga Ikat

Rahma Artha, pemilik usaha buket dan bunga ikat @flomma.flower
Rahma Artha (18), pemilik usaha buket dan bunga ikat @flomma.flower (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

MENGENAL dunia perniagaan atau berdagang sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) menjadikan Rahma Artha (18) semangat menggeluti bisnis buket dan bunga ikat. Bahkan dari usahanya tersebut, pada Juni 2023 lalu dirinya berhasil meraih omzet Rp 10 juta dalam kurun waktu satu bulan.

Mahasiswi Prodi Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu mengaku mendapat ide awal memulai bisnis buket dan bunga ikat saat pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Minggu (30/7/23). Dirinya melihat, banyak mahasiswa menggunakan buket dan bunga untuk merayakan kelulusan.

Basic-nya saya sudah suka bunga dan hobi membuat bunga tapi kendalanya paling 10 hari setelah dimasukin vas sudah layu. Jadi cari-cari lah alternatif bucket, ada bunga artificial yang udah beredar banyak di pasaran, bunga rajut, dan bunga kawat bulu,” kata Amma, sapaan akrab remaja pemilik Flomma Flower (@flomma.flower) ini.

Di antara berbagai pilihan yang ada, ia mengambil bunga kawat bulu yang ternyata banyak disukai. Seiring waktu, pesanannya pun bertambah sehingga Amma merekrut orang untuk membantunya.

“Saya ingin bermanfaat untuk orang-orang sekitar. Jadi saya rekrut karyawan untuk bantu-bantu, juga ketika bunganya diberikan sebagai hadiah saya juga ikut bahagia,” ujarnya.

Ia memasarkan dagangannya via online dan car free day (CFD) Kota Semarang, tepatnya di Taman KB. Amma menjual produk mulai dari harga Rp 4,5 ribu.

Sebagai satu dari ribuan pengusaha muda, Amma ingin memperlihatkan kepada teman-teman sebayanya bahwa mencoba memulai berbisnis kecil bukan hal yang memalukan. Karena semua hal besar dimulai dari hal-hal kecil disekitar. Ia pun mendorong anak muda untuk mau mencoba walaupun awalnya tidak mendapat uang, namun pengalaman lebih berharga dari pada apapun.

“Tidak perlu malu untuk jadi pengusaha kecil dan berfikir terlalu banyak untuk memulai. Langsung praktek dan jalani terlebih dahulu proses evaluasi bisa dilakukan berdampingan. Karena terlalu banyak berfikir tanpa praktek nantinya akan kalah saing dengan orang-orang di sekitar kita yang mau berproses,” tuturnya. (fan/mg4)