Hari Kanker, Ingatkan Gaya Hidup Sehat

dr. Arif Rahman, Sp.PD, AIFO-K
dr. Arif Rahman, Sp.PD, AIFO-K (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Tanggal 4 Februari 2024, bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia, para dokter mengikatkan agar masyarakat membiasakan pola hidup sehat. Sebab, penyakit ini menjadi penyebab kematian paling tinggi di dunia. Menurut data Kemenkes RI tahun 2022, angka kejadian penyakit kanker di Indonesia adalah sebesar 136 orang per 100.000 penduduk atau berada pada urutan ke-8 di Asia Tenggara.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Unimus, dr. Arif Rahman, Sp.PD, AIFO-K menyebut bahwa setiap orang memiliki bakat sel kanker di dalam tubuh. Kendati demikian tidak semua sel kanker akan aktif.

“Sebenarnya semua orang memiliki bakat sel kanker dalam tubuhnya, tapi ada yang memang aktif adapula yang tidak,” katanya pada Joglo Jateng saat ditemui di Rumah Sakit Unimus, belum lama ini.

Adapun pemicu sel kanker tersebut aktif disebabkan oleh dua faktor. Yakni intrinsik atau dari dalam yang biasanya karena keturunan. Serta faktor ekstrinsik atau dari luar, penyebabnya adalah gaya hidup yang tidak sehat.

“Faktor ekstrinsik ini berhubungan dengan life style. Sedentary lifestyle, gaya hidup yang banyak makanan tinggi gula, banyak tepung, mengandung lemak, kolestrol, dan cara pengolahan instan lalu yang dibakar, ini mempengaruhi timbulnya penyakit kanker,” jelasnya.

Dokter pemilik akun instagram @doktermimin ini menegaskan bahwa gaya hidup tidak sehat memang tidak langsung berpengaruh memicu kanker. Karena biasanya efek ini timbul secara bertahap dan dalam waktu yang panjang.

Dirinya pun menyinggung gaya hidup anak-anak sekarang yang gemar mengonsumsi makanan instan berlebih. Tentu hal ini akan membahayakan bagi kesehatan, bahkan yang paling fatal bisa menghidupkan sel kanker dalam tubuh.

“Tentu sel kanker ini bisa aktif kalau gaya hidup kita tidak sehat. Makan yang tinggi oksidan menyebabkan tubuh kita radang. Makanan ultraproses ini nilai gizinya kurang. Biasanya terlalu banyak karbohidrat, gula, dan tambahan zat lain. Jadi makanan seperti itu menyebabkan proses radang yang terus menerus yang memicu sel kanker dalam tubuh aktif,” tegasnya.

Dokter yang praktik di Rumah Sakit Unimus dan Rumah Sakit Kusuma ini pun mengaku sebagaian besar pasien kanker yang ditemuinya sudah stadium lanjut. Faktornya juga karena pola makan tidak sehat juga karena merokok. Biasanya mereka telat memeriksakan kondisi kesehatan. Sehingga ketika datang kondisinya sudah kronis.

Pihaknya pun mengimbau pada masyarakat untuk melakukan upaya preventif untuk pencegahan. Khususnya bagi generasi muda untuk aware terhadap kesehatan. Kemudian menerapkan gaya hidup sehat dengan memakan makanan yang bergizi dan kaya akan antioksidan. Seperti sayur dan buah-buahan. Selain itu juga rutin melakukan screening dengan medical checkup (MCU).

“Sekarang sudah banyak anak muda yang sadar kesehatan. Di medsos ada tren-tren anak muda, Gerakan-gerakan menuju sehat, ada klub lari, bersepeda, juga fitness yang lagi ngetrend. Jadi prinsipnya tidak peru khawatir, jaga pola hidup sehat dan lakukan screening. Sehingga penanganan kanker bisa diobati lebih dini,” tandasnya. (luk/gih)