Figur  

Pilih Jadi Guru daripada Jadi TKW

Devi Agustia Hartiningsih (DOK.PRIBADI/JOGLO JATENG)

GURU SDN Tayu Wetan, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Devi Agustia Hartiningsih (25) memiliki cerita menarik sebelum menjadi pengajar. Ia awalnya takut bekerja di luar negeri atau menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Ia bercerita, awalnya dirinya tidak berpikir untuk kuliah apalagi menjadi guru. Hal tersebut dikarenakan faktor ekonomi dan lingkungan sekitarnya.

Selamat Idulfitri 2024

“Dulu di lingkungan saya belum ada anak dari orang biasa yang bisa kuliah apalagi di universitas negeri seperti di UNNES. Saya awalnya berpikir bahwa nasib saya akan seperti orang-orang di sekitar saya yang setelah lulus SMA akan menjadi TKW di luar negeri,” kata dia, belum lama ini.

Baca juga:  Dalami Isu Remaja, Mitha Sukses Jadi Duta GenRe

Karena ketakutan tersebut, kemudian ia pun berniat mendaftarkan diri di SMK agar setelah lulus bisa kerja di Indonesia saja. Namun ternyata orang tuanya berpikir jauh ke depan.

“Mereka ingin agar saya bersekolah di SMA 2 Pati. Meski tidak lolos di jalur undangan, Alhamdulillah saya bisa lolos di jalur umum lewat tes,” ucapnya.

Lama-kelamaan, setelah berteman dengan teman-teman di SMA 2 Pati, pikirannya menjadi terbuka. Devi pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah.

“Berkat doa kedua orang tua, saya diterima di Polines jurusan Teknik Sipil dan Unnes jurusan PGSD. Saat itu saya bimbang memilih yang mana. Akhirnya saya tetap memilih PGSD Unnes karena selain mendapatkan beasiswa Bidikmisi, jurusan tersebut juga hal yang sangat diinginkan oleh ibu saya,” ujarnya.

Baca juga:  Terluka Saat Lomba, Siswa SMPN 4 Pemalang Raih Juara Mayoret Favorit

Kemudian pada tahun 2020, Devi dinyatakan lolos CPNS. Lalu, tanggal 11 Januari 2021 merupakan hari pertamanya masuk sebagai guru CPNS di SDN Tayu Wetan 03 dan jadi hari pertamanya sebagai guru.

“Ketika pertama kali menjadi guru, saya dihadapkan situasi yang cukup mengejutkan bagi saya. Saat itu masih covid sehingga murid masih belajar dari rumah,” tutur perempuan yang hobi membaca dan menulis itu.

Pada itu, dia agak kaget dan mengalami kesulitan untuk menampung segala aspirasi yang disampaikan oleh wali murid. Karena waktu itu dirinya belum mengenal para murid maupun wali muridnya. Sehingga hanya bisa berharap pandemi covid-19 segera mereda dan bisa mengajar secara langsung murid-muridnya.

Baca juga:  Senang Bersosialisasi, Dalami Ilmu BK

“Tidak ada keinginan yang muluk-muluk. Saya sebagai guru sangat membutuhkan untuk langsung berjumpa dengan murid saya. Saat ini setelah covid selesai, saya berharap bisa menjadi seorang guru yang bisa melindungi murid-muridnya dan membuat mereka senang,” pungkasnya. (lut/adf)