Kudus  

Pangkalan Terapkan Harga LPG Subsidi dibawah Rp 20 Ribu

ORDER: Salah satu pangkalan menerima orderan LPG dari agen di Desa Ngembalrejo, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Masyarakat masih harus merogoh kocek Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu untuk bisa menukar tabung kosong dengan yang berisi. Baik yang berada di pangkalan maupun pengecer.

Berdasarkan pantauan Joglo Jateng, harga LPG subsidi 3 kilogram (Kg) di salah satu pangkalan di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus hingga saat ini masih terapkan harga dibawah Rp 20 ribu. Karena ada tambahan biaya operasional yang harus ditanggung kemudian harga tersebut sudah menjadi kesepakatan pihak pangkalan dengan agen.

Selamat Idulfitri 2024

Salah satu pemilik pangkalan, Mahfudz mengungkapkan, sesuai dengan perjanjian bersama agen, dia harus memenuhi aturan tersebut. Dengan menjual tabung gas LPG 3 Kg dibawah Rp 20 ribu. Karena agen menjual ke pangkalan dengan harga yang dibandrol harga Rp 14.250. Sedangkan harga dari pertamina, di patok harga ecer tertinggi (HET) Rp 15.500.

Baca juga:  PWM Jateng Gelar Pengajian Ramadan untuk Memperkuat Basis Dakwah

“Disini saya tidak berani menjual dengan harga diatas Rp 20 ribu. Karena sesuai dengan aturan dari agen penjualan dengan harga Rp 19 ribu per tabung,” ujarnya.

Dia menanggapi perihal kelangkaan yang dikeluhkan masyarakat, sebenarnya LPG tidak langka. Hanya saja, terhambat dalam pengiriman akibat banjir Minggu lalu. Dengan begitu, pendistribusian gas jadi agak berkurang.

“Beberapa hari yang lalu, memang ketersediaan stok disini berkurang. Informasinya dari agen ada keterlambatan penyaluran karena banjir. Biasanya stok yang diberikan 70 tabung per Minggu. Sekarang menjadi berkurang hanya 50 tabung perminggu.

Baca juga:  @Hom Hotel Ajak Santri Ponpes Nun Khataman dan Buka Bersama

Tambah dia, pendistribusian LPG ke pangkalan setiap hari selasa. Jenis gas yang tersedia berukuran 3 kg, 5,5 kg, dan 12 kg. Dia juga harus bisa menjual gas habis dalam waktu seminggu.

“Alhamdulillah pengiriman setiap minggunya lancar tidak ada kendala. Untuk LPG 3 kg masih lancar dalam menjualnya bahkan sampai kurang. Sedangkan LPG yang 5,5 kg dan 12 kg susah menjualnya. Karena warga mengira harganya lebih mahal. Jadi, ketersediaan gas nonsubsidi lebih sedikit dibanding dengan gas subsidi,” tambahnya.

Pihaknya melayani pembeli sesuai dengan ketentuan, yakni 70 persen usaha mikro dan UMKM serta 30 persen pengecer. Hal itu, membuat masyarakat sekitar lebih mudah mencari gas untuk kebutuhan memasak sehari hari.

Baca juga:  Pemdes Jepang Bangun Ekonomi melalui Pasar Tokiyo

“Kasian warga yang mengeluh tidak dapat gas LPG subsidi, mereka kebingungan hingga tidak bisa memasak. Jadi, saya utamakan warga sekitar dan pedagang dulu, baru nanti 30 persen kepada pengecer,” tuturnya. (cr3/fat)