Kudus  

Kampoeng Djadhoel Suguhkan Kuliner Khas Hingga Edukasi Membatik

KOMPAK: Tim Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Djadhoel saat menunjukkan stand dalam Jambore Pokdarwis Jateng, di Balai Jagong, Kudus, pada Minggu, (19/5/2024). (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Djadhoel yang berlokasi di Kampung Batik Tengah, Rejomulya, Kota Semarang menyuguhkan ragam kuliner khas hingga edukasi membatik dalam Jambore Pokdarwis Jateng, di Balai Jagong, Kudus Sabtu (18/5) hingga Minggu (19/5).

Kepala Bidang Kelembagaan Kepariwisata Kota Semarang, Nurul Fitri menjelaskan, Pokdarwis Kampoeng Djadhoel mewakili Semarang setelah sebelumnya menjadi pemenang dalam seleksi 27 Pokdarwis. Menurutnya, Pokdarwis Kampoeng Djadhoel memiliki kelembagaan yang lengkap. Tak hanya itu, ada empat jenis daya tarik yang dimiliki berupa edukasi, sejarah, seni dan budaya.

Edukasi di Kampoeng Djadhoel terdiri dari belajar membatik, urban framing hingga permainan tradisional. Sementara pada sejarah terdapat relief sejarah batik nusantara, mural sejarah kota Semarang, mural wayang dan mural jenis batik dan proses membatik.

Baca juga:  Dishub Kudus Segera Lengkapi Zoss untuk Menunjang KLA

“Kami juga miliki music tradisional atau keroncong dan seni lukis batik setra sablon cukil. Dan pada kuliner tradisional ada makanan khas Semarang berupa ganjel rel dan wedang jarem yang bisa dinikmati oleh para pengunjung,” jelasnya kepada Joglo Jateng, Sabtu, (18/5/2024).

Nurul kembali menceritakan, Kampoeng Djadhoel merupakan singkatan dari Belandja dan Dhoelan-dhoelan. Pada awalnya, Kampoeng Djadhoel hanya perkempungan biasa yang memiliki peninggalan budaya leluhur.

“Kami tak hanya mengangkat pamor batik saja melainkan menawarkan unsur-unsur tempo dulu. Seperti sejarah, seni, kuliner khas dan edukasi,” ujarnya.

Baca juga:  Empat Jemaah Haji Asal Kudus Dapat Perawatan Intensif

Kampoeng Djadhoel menyediakan beberapa toko batik yang lengkap. Mulai dari atasan, bawahan, daster dan lainnya yang cocok untuk souvenir khas. Tidak hanya batik, kata Nurul, adaedukasi kesenian wayang kulit yang bisa didapatkan para pengunjung.

Salah satu hal menarik yang ditawarkan adalah lukisan mural sepanjang 47 meter yang menghiasi kedua sisi tembok lorong jalan. Mural ini dipenuhi dengan lukisan yang menceritakan kisah bersejarah. Mulai dari sejarah asal usul Semarang, kawasan Kota Lama, peristiwa pertempuran lima hari di Semarang dan lain-lain.

“Lukisan ini menjadi daya tarik para wisatawan sebagai spot foto yang cantik. Sekaligus menambah wawasan mengenai sejarah kota Semarang di wisata Kampoeng Djadhoel,” katanya.

Baca juga:  Fogging Tak Lagi Ampuh? Beralih ke 3M Plus untuk Basmi Nyamuk di Golantepus!

Hingga saat ini, lanjut Nurul, Kampoeng Djadhoel masih beroperasi dengan baik bahkan membantu perekonomian warga setempat. Utamanya dalam even-even tertentu seperti hari batik nasional, tradisi titiran, kirab budaya dan lain-lain.

“Harapannya melalui Jamboder Pokdarwis ini, Kota Semarang konsisten dalam meningkatkan potensi pokdarwis supaya bisa bersaing di kelas Jawa Tengah. Serta menjadi wisata kelas internasional dengan wisatawan dari luar,” harapnya.  (cr1/fat)