Jerat Patriarki dari Seorang Alumni Pesantren yang Kehilangan Akhlaknya

ILUSTRASI: Seorang laki-laki tengah bermain dengan gawainya, (ADINDA FATMA FADHILAH/JOGLO JATENG).

Dengan keinginan itu, bukan menunjukkan sikap yang semakin baik pada Rosi, Z justru melakukan hal-hal yang semakin membuat Rosi tak habis pikir. Z mengirim pesan melalui Facebook dengan nama akun yang tak dikenal.

Isinya, “Fotomu marai aku nafsu”.

Rosi pun mencari tahu siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan itu karena ia merasa familiar dengan model typing-nya. Di link profile yang mengarah pada akun bernama Lindra Pratama itu tertulis nama Zahro. Diketahui, Zahro adalah orang yang sempat dengan Z sebelum Rosi.

Dalam satu kesempatan kemudian, Z mengajak Rosi bertemu dan makan bersama di kafe. Z meminta gawai Rosi untuk dicek. Dan tanpa banyak keraguan, ponsel itu diberikan.

Rosi pun juga meminjam HP Z. Yang paling ingin ia cari adalah akun Facebook yang sempat mengirimkan pesan mesum tadi.

“HP-nya dia aku minta aku cek. Namanya betul akun Lindra Pratama. Itu ada di HP-nya dia. Tapi waktu aku tanyain, ini Lindra Pratama. Loh yang nge-chat aku kemarin,” ungkap perempuan 24 tahun itu.

Lalu, secara terang-terangan Z juga berkata pada Rosi bahwa ia dapat mengetahui bentuk vagina perempuan dari melihat wajah. Hal itu, kata Z, bersumber dari kitab yang pernah dipelajarinya.

Di sini Rosi semakin merasa tidak habis pikir. Bagaimana bisa, Z yang sudah belajar di pondok pesantren selama 13 tahun dan banyak dihormati orang karena pengetahuan ilmu agamanya, justru mengeluarkan kalimat-kalimat itu pada Rosi.

“Alisnya begini, matamu belo. Artinya kelaminmu begini. Ngomongnya bener-bener vulgar,” ucap dia.

Tak ada alasan lagi bagi Rosi untuk bertahan dengan laki-laki yang kini berusia sekitar 31 tahun itu. Bukan lagi tak nyaman, tatapi sudah merasa tak aman.