Jerat Patriarki dari Seorang Alumni Pesantren yang Kehilangan Akhlaknya

ILUSTRASI: Seorang laki-laki tengah bermain dengan gawainya, (ADINDA FATMA FADHILAH/JOGLO JATENG).

Menyadari sikap Rosi yang sudah sangat jarang membalas pesan WhatsApp, Z memaksa Rosi agar mau diajak bertemu lagi. Rosi pun menerima itu dan mencoba menyampaikan secara baik-baik keinginannya untuk mengakhiri hubungan.

“Aku nggak bisa deket sama kamu lagi. Aku kan bilang gitu. Kita masih bisa berkomunikasi layaknya temen. Maksudnya kamu nge-chat aku kalau perlu aja. Nggak usah nge-chat setiap hari,” ungkap Rosi.

Z tak mau mengikuti permintaan itu.

Membuat Fake Account dengan Nama Rosi

Sebuah akun TikTok yang berisi video Rosi ketika berada di Makkah tiba-tiba muncul. Perempuan yang bekerja di biro pemberangkatan umrah itu merasa tak mengunggahnya.

Video lainnya di akun yang sama adalah saat ia berada di atas motor, menahan kesabaran karena kunci motor miliknya direbut oleh Z usai keduanya bertemu.

Di Instagram juga bermunculan akun-akun yang menggunakan nama dan foto Rosi. Ada lebih dari 20 akun. Teman-teman Rosi kerap mendapat pesan dari akun-akun tersebut, menanyakan keberadaan Rosi dan meminta agar tak ikut mendukung Rosi yang ingin mengakhiri hubungan dengan Z.

Beberapa akun yang dibuat kemudian berhasil hilang usai Rosi meminta teman-temannya untuk me-report.

Tak cukup di TikTok dan Instagram, nama Rosi juga muncul di aplikasi Facebook dan MiChat. Bahkan nomor WhatsAppnya disebarkan di grup pornografi dan open BO (booking out-istilah ini sering digunakan sebagai kode jasa prostitusi online).

Ia pun bingung dan takut, mengapa tiba-tiba ratusan orang mengirim pesan di nomor pribadinya, menanyakan informasi seputar booking.