Jerat Patriarki dari Seorang Alumni Pesantren yang Kehilangan Akhlaknya

ILUSTRASI: Seorang laki-laki tengah bermain dengan gawainya, (ADINDA FATMA FADHILAH/JOGLO JATENG).

JOGLO JATENG – Saat itu adalah waktu Rosi menginjak semester 6, menjalani kuliah dan aktif berorganisasi. Ia menerima pesan di Facebook. Nama yang jelas dia lihat adalah seorang laki-laki yang banyak dihormati teman-teman dan kakak tingkatnya di organisasi ekstra kampus. Z. Alumni pondok pesantren besar di Jawa Timur itu hingga kini memiliki banyak jemaah burdah.

Perkenalan Rosi dan Z berlanjut. Setiap harinya Rosi kerap mendapat pesan, ditanyai tentang aktivitas yang ia jalani. “Lagi apa, Ros?”.

Selama tiga bulan terakhir, ia memberi respon kepada Z sebagai tanda hormat. Teman-teman yang mengetahui hubungan mereka berdua pun terkesan. Betapa beruntungnya Rosi, karena didekati seorang laki-laki yang paham agama.

Baca juga:  SMP Agustinus Semarang Siap Tampung Siswa yang tak Lolos di Sekolah Negeri

Namun hubungan baik itu tak berlangsung lebih lama. Z mulai menunjukkan sikap yang membuat Rosi tak nyaman.

Dalam satu momen, Rosi yang saat itu menjabat sebagai bendahara dewan eksekutif mahasiswa tingkat fakultas bersama teman-teman seorganisasinya menggelar kegiatan perpisahan akhir masa jabatan. Mereka melakukan kegiatan bersama dan menginap di salah satu vila di Kabupaten Semarang.

Z pun mendapat kabar Rosi mengikuti kegiatan itu dan langsung bereaksi negatif. Tak terima. Yang paling membuat kaget Rosi adalah ketika ia mendapat pesan, “Ngapain kamu ikut? Itu nggak baik. Dari pada kamu nginep satu vila sama temen-temen cowok mendingan check in (di vila, Red.) sama aku aja”.

Baca juga:  SMP Joko Tingkir Siap Jadi Sekolah Unggulan

Dari situ, Rosi mulai sadar jika laki-laki itu patriarki. Juga berotak mesum.

“Aku langsung berpikir nyari cara biar bisa cut off hubungan ini. Udah nggak bisa diterusin,” ungkap Rosi kepada Joglo Jateng, beberapa waktu lalu.

Saat ia perlahan mencoba menjauh, justru Z memberitahu orang-orang terdekat bahwa Rosi adalah calon istrinya. Dari ibu nyai pondok pesantrennya dulu di Jawa Timur, keluarga hingga para kader organisasi ekstra kampus yang sowan ke rumah Z.

“Belum sejauh ada obrolan pernikahan. Tapi dia yang mengenalkan aku sebagai calon istri ke keluarga dan bu nyai. Fotoku dikasihkan lihat. Dia bilang gitu ke aku,” tutur Rosi.