KUDUS, Joglo Jateng – Kisah inspiratif kembali hadir dari dunia Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia. Kali ini, Muria Batik Kudus, UMKM binaan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, berhasil menghidupkan kembali kejayaan batik Kudus yang sempat punah. Bahkan menembus pasar internasional hingga memberdayakan kelompok disabilitas.
Dalam acara media gathering di Kudus, Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mengungkapkan, Pertamina berkomitmen mendukung UMKM lokal yang menghidupkan kearifan budaya daerah. Pertamina telah mendampingi UMKM melalui berbagai program seperti pelatihan, pembinaan, hingga fasilitasi pameran nasional dan internasional.
“Kita menyaksikan kisah sukses Bu Yuli, perintis bukan pewaris. Beliau menghidupkan kembali batik Kudus yang sempat dilupakan, dan sekarang pasarnya sudah merambah ke berbagai wilayah Indonesia bahkan hingga luar negeri. Kami ingin UMKM naik kelas. Tidak hanya untung, tapi membawa berkah bagi lingkungan, termasuk memberdayakan kelompok rentan seperti penyandang disabilitas,” ungkapnya.
Pemilik Muria Batik Kudus, Yuli Astuti menceritakan awal perjuangannya sejak tahun 2005 ketika batik Kudus hampir punah. Tidak ada satu pun pembatik yang tersisa.
“Saya belajar sendiri ke Pekalongan, Solo, Jogja, dan menghabiskan dua tahun untuk menggali motif batik Kudus yang sudah hilang. Dari situ saya mulai membangun lagi dari nol,” jelasnya.
Keunikan batik Kudus, menurut Yuli, terletak pada cerita-cerita rakyat (folklore) yang menjadi inspirasi motif. Seperti motif Kapal Kandas, Parijoto, dan Kretek. Semuanya sarat makna sejarah dan budaya lokal.
“Motif Parijoto misalnya, berasal dari tanaman di Gunung Muria yang dipercaya bisa membuat anak dalam kandungan jadi rupawan. Ada juga motif klasik yang proses pembuatannya bisa sampai satu tahun,” bebernya.










