Kudus  

Siswa SMK di Kudus Tolak Program MBG, Minta Dana Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru

sejumlah siswa sekolah di Kabupaten Kudus yang sedang menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis.
MAKAN: Tampak beberapa siswa sedang mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah Kabupaten Kudus. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sebuah suara berbeda datang dari kalangan pelajar di Kabupaten Kudus. Seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memilih menolak manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan justru meminta agar alokasi anggaran untuk dirinya dialihkan demi kesejahteraan guru.

Siswa tersebut adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, pelajar kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK NU Miftahul Falah, Kecamatan Dawe. Melalui surat yang ia tujukan kepada Presiden, Arsya menyampaikan aspirasi pribadi yang kemudian menjadi perhatian publik setelah diunggah di media sosial.

Dalam suratnya, Arsya menilai bahwa kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru honorer, masih belum optimal. Ia melihat adanya ketimpangan antara besarnya anggaran program MBG dengan kondisi penghasilan sebagian pendidik yang masih terbatas.

“Jika memungkinkan, saya memohon agar alokasi anggaran untuk saya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru,” tulisnya.

Aspirasi tersebut mendapat respons luas di media sosial. Unggahan yang berisi surat itu menarik ribuan interaksi, dengan mayoritas komentar memberikan dukungan terhadap kepedulian Arsya pada dunia pendidikan.

Tangkapan layar sepucuk surat yang ditulis oleh siswa SMK di Kudus berisi permohonan pengalihan dana Makan Bergizi Gratis untuk kesejahteraan guru.
ISI: Penampakan sepucuk surat yang ditulis oleh siswa di Kudus terkait penolakan MBG. (HUMAS/JOGLO JATENG)

Arsya menjelaskan bahwa keputusannya bukan bentuk penolakan terhadap program pemerintah secara keseluruhan, melainkan sikap pribadi yang dilandasi keprihatinan terhadap kondisi guru. Ia menilai, peran guru sangat fundamental dalam membentuk kualitas generasi muda.

Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan gizi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan guru menjadi hal yang tidak kalah penting.

Dalam perhitungannya, Arsya mencoba mengestimasi nilai manfaat yang akan ia terima dari program MBG selama masa studinya. Dengan asumsi durasi sekitar 18 bulan, 25 hari per bulan, dan nominal Rp 15.000 per hari, total anggaran mencapai sekitar Rp 6,75 juta.

“Nilai tersebut mungkin tidak terlalu signifikan secara pribadi, namun jika dialihkan dapat menjadi bentuk apresiasi nyata bagi guru yang selama ini berperan dalam proses pembelajaran,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi guru honorer yang menurutnya masih menghadapi tantangan kesejahteraan. Hal ini menjadi salah satu alasan utama dirinya menyampaikan aspirasi tersebut secara terbuka. (adm/rds)