Kapal Antre 7 Hari, BTR, MTI Hingga Polygroup Mulai Resah

Presiden Direktur PT BTR, Wu Lei saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan.(Agus/Joglo Jateng)

KENDAL, Joglo Jateng – Sejumlah pelaku industri di Kabupaten Kendal mengeluhkan keterbatasan kapasitas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang dinilai tidak lagi mampu menampung lonjakan aktivitas ekspor dan impor dari kawasan industri di Jawa Tengah.

Kondisi tersebut membuat kapal yang membawa bahan baku maupun produk ekspor harus menunggu beberapa hari sebelum dapat bersandar di dermaga. Dampaknya, proses produksi di sejumlah perusahaan ikut terganggu.

Presiden Direktur PT BTR, Wu Lei, mengatakan bahan baku grafit anoda yang dikirim dari Sulawesi menggunakan kapal curah harus menunggu antrean hingga lima sampai tujuh hari sebelum bisa masuk ke pelabuhan.

Menurutnya, keterlambatan itu berdampak langsung terhadap proses produksi baterai litium-ion untuk kendaraan listrik yang dijalankan perusahaan.

“Padahal bahan baku untuk baterai litium-ion yang kami produksi ini sangat kami tunggu. Karena harus menunggu lama, proses produksi tidak bisa maksimal,” ujar Wu Lei, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, dua hingga tiga tahun lalu kapal masih bisa bersandar setiap hari. Namun saat ini antrean kapal semakin panjang karena meningkatnya kepadatan dermaga dan jalur distribusi.

Selain bahan baku yang masuk, proses ekspor produk jadi juga mengalami kendala serupa. Pengiriman melalui kontainer dari Pelabuhan Tanjung Emas harus menunggu lebih lama dibanding sebelumnya.

Wu Lei menyebutkan, volume ekspor PT BTR saat ini mencapai sekitar 600 kontainer per bulan. Jika proses bongkar muat di pelabuhan berjalan lebih lancar, target ekspor perusahaan bisa meningkat hingga 800 kontainer per bulan.

Keluhan serupa disampaikan Executive Vice President PT Matahari Tire Indonesia, Wu Yuejun. Ia mengatakan perusahaannya juga sering menunggu hingga tujuh hari agar kapal bisa masuk dermaga untuk proses bongkar muat bahan baku.

Menurutnya, keterlambatan tersebut berdampak pada kelancaran produksi, mengingat bahan baku datang dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Vietnam.