SGI Angkatan 52 Rembang Resmi Diluncurkan, Cetak Guru Penggerak Pendidikan

FOKUS: Peserta SGI angkatan 52 mengikuti program pelatihan di MI Leran, Minggu (19/4/2026). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Kabupaten Rembang memulai babak baru dalam penguatan kualitas pendidikan melalui peluncuran Sekolah Guru Indonesia (SGI) Angkatan 52. Program ini tidak sekadar melatih guru mengajar, tetapi membentuk pemimpin pembelajaran yang mampu menghidupkan ekosistem sekolah secara menyeluruh.

Program ini hadir dengan pendekatan berbeda dari pelatihan guru pada umumnya. Mengusung tema School Leadership Ecosystem, SGI menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh elemen sekolah. Kesadaran bahwa kualitas pendidikan tidak dapat dibangun secara parsial menjadi landasan utama lahirnya inisiatif ini.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Rembang, Sumardi, menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan pendidikan yang bermutu. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini menuntut keterlibatan banyak pihak secara bersama-sama.

“Pendidikan yang bermutu tidak bisa dibangun secara individual. Dibutuhkan kerja sama seluruh elemen yaitu guru, kepala sekolah, siswa, hingga orang tua agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya belum lama ini.

Ia berharap para peserta SGI Angkatan 52 mampu menjadi motor penggerak yang menjahit sinergi di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang kokoh dan berkelanjutan.

Fasilitator SGI Kabupaten Rembang, Eqtafa Berrasul Muhammad, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kompleksitas tantangan pendidikan yang terus berkembang. Kurikulum yang diterapkan mengedepankan pendekatan holistik dengan fokus pada kepemimpinan guru, kepemimpinan murid, serta pembelajaran berbasis ADAB Project.

“Kami membangun pemimpin pembelajaran yang mampu menciptakan sistem dukungan di lingkungannya,” jelasnya.

Selama periode April hingga Desember 2026, para peserta akan mendapatkan penguatan kapasitas melalui berbagai materi, mulai dari coaching, design thinking untuk inovasi program, hingga literasi kreatif. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan guru yang tidak hanya kompeten di kelas, tetapi juga adaptif dan kolaboratif dalam menghadapi perubahan.

Bagi para peserta, program ini menjadi ruang belajar yang sangat dinantikan. Himmatul Ulyah, guru dari SD Negeri 3 Woro, mengungkapkan antusiasmenya terhadap kesempatan ini.

“SGI adalah wadah yang sangat berharga untuk meningkatkan kapasitas diri. Saya berharap semangat belajar dan kolaborasi ini tidak berhenti setelah program selesai,” ungkapnya.

Ia juga berharap adanya keberlanjutan pascaprogram, sehingga para pendidik dapat terus terhubung dalam forum berbagi dan pengembangan diri. (uma/fat)