Usung Konsep Ekonomi Hijau, BI Jateng Targetkan Pameran UMKM Grande 2026 Tembus Omzet Ratusan Juta

DIALOG: Pengunjung saat menanyai pelaku UMKM yang memiliki produk batik pada gelaran UMKM Grande 2026 di Mall Paragon Semarang, Kamis (7/5/2026). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lebih ramah lingkungan melalui penerapan konsep ekonomi hijau dan sustainability. Upaya tersebut diwujudkan dalam gelaran UMKM Grande 2026 yang berlangsung di Mall Paragon Semarang pada 7–11 Mei 2026.

Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan UMKM Grande 2026 diikuti sekitar 90 pelaku usaha dari berbagai sektor. Tahun ini BI mengusung konsep green, kerakyatan, digital, dan ekspor atau Grande sebagai upaya mendorong UMKM lebih ramah lingkungan dan mampu bersaing di pasar global.

Green ini sesuatu yang saat ini kita dorong. Sustainability atau ekonomi hijau itu sangat penting dengan kondisi dunia yang sedang mengalami tantangan lingkungan,” ujarnya di sela kegiatan Grande Bank Indonesia di Kota Semarang, Kamis (7/5/2026).

Selain pameran produk, pihaknya turut menghadirkan business matching dengan calon pembeli potensial dari Singapura, Thailand, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Sri Lanka. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing UMKM Jawa Tengah di tingkat internasional.

BI Jawa Tengah juga menargetkan omzet UMKM Grande 2026 mencapai Rp 630 juta atau naik sekitar lima persen dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 600 juta. Peningkatan kualitas produk, konsep baru, serta kolaborasi internasional diyakini mampu mendongkrak transaksi selama pameran berlangsung.

“Kita harapkan naik sekitar lima persen dari tahun lalu. Mudah-mudahan target omzet Rp 630 juta bisa tercapai,” ungkap Noor.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha yang aktif mengenalkan produk tersebut yakni Souvenir Tanto Sangiran milik Sukoco, yang membawa aneka aksesori berbahan batu alam asli Sangiran ke Kota Semarang.

Sukoco mengatakan dirinya rutin mengikuti berbagai pameran UMKM melalui fasilitasi pemerintah, mulai dari Disperindag hingga Dinas Koperasi. Menurutnya, kegiatan pameran menjadi sarana efektif memperkenalkan produk kerajinan khas Sangiran kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya di Kota Semarang.

“Untuk kegiatan pameran biasanya ikut dari kedinasan, seperti Disperindag dan Dinkop. Saya senang sekali karena bisa mengenalkan produk Sangiran ke lebih banyak orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, produk yang ditampilkan berupa gelang batu, batu cincin, bros, hingga aksesori lain berbahan batu alam asli Sangiran. Bahan baku diperoleh dari temuan alami di kawasan sekitar Sungai Sangiran tanpa proses eksplorasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan yang dilindungi.

Menurut Sukoco, usaha yang dijalankannya juga melibatkan sekitar 20 perajin dengan keahlian berbeda-beda. Ada yang membuat gelang, gantungan kunci, tasbih, hingga kerajinan manusia purba. Souvenir Tanto Sangiran berperan sebagai mitra sekaligus penampung hasil karya para perajin lokal agar produksi tetap berjalan.

“Kita seperti pengepul atau mitra mereka. Jadi para perajin fokus produksi, nanti hasilnya kami tampung untuk dipasarkan,” katanya. (hfh/gih/rds)