UMKM  

Pasangan Suami Istri di Bantul Lestarikan Kue Satu, Makanan Tradisional yang Mulai Punah

KEMAS: Terlihat seorang karyawan saat memproduksi kue satu di usaha milik Kamijan BA dan Wasiati, di Padukuhan Sulang Lor, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis. (JANIKA IRAWAN/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Kamijan BA (62) dan istrinya Wasiati (58) warga Padukuhan Sulang Lor, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, kembali melestarikan budaya nenek moyang. Dengan membuat kue yang telah menjadi tradisi dalam berbagai acara, yakni Kue Satu.

Kamijan yang merupakan pengusaha Kue Satu mengungkapkan, usaha yang ia jalani tidak sekedar untuk mencari keuntungan. Melainkan sebagai perwujudan dari melestarikan budaya yang telah dikenal sejak kecil.

“Saya mengingat zaman dulu, kalau ada cara selalu terhidang Kue Satu. Namun akhir-akhir ini sempat punah atau tidak pernah merasakannya lagi. Kami ingin melestarikan budaya dari nenek saya tersebut,” tuturnya.

Pak Kamijan bersama istrinya Wasiati akhirnya mulai belajar membuat Kue Satu dan mendirikan usaha dan saat ini memiliki empat karyawan yang terlibat dalam tim produksi. Bahkan, setiap harinya bisa memproduksi 100 bungkus masing-masing berisikan 10 kue.

“Bahan yang digunakan tepung beras dan gula merah. Cara membuatnya mudah dan dikerjakan dengan manual. Jadi tepung beras ketan dan gula merah dihaluskan, kemudian diaduk sampai rata lalu di cetak,” imbuhnya.

Menurutnya, produk Kue Satu yang dihasilkan dijual ke beberapa pasar yang ada di Bantul. Di antaranya Pasar Barongan, Pasar Imogiri, Pasar Ngangkruk dan Pasar Gatak. Dengan harga yang dipatok Rp 5 ribu per bungkus kecil dan Rp 10 ribu per bungkus berukuran besar.

“Namun, paling banyak terjual pada saat hari raya Idul Fitri. Karena banyak yang dijadikan sebagai oleh-oleh Lebaran,” tutupnya.(cr13/sam)