Oleh: Arum Budiyati, M.Tr.Keb
Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang
KANKER serviks masih menjadi ancaman nyata bagi perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Data global menunjukkan, terdapat lebih dari 662 ribu kasus baru kanker serviks pada tahun 2022, menjadikannya sebagai kanker terbanyak keempat yang menyerang perempuan.
Lebih dari 95 persen kasus disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi. Virus ini dapat menimbulkan lesi prakanker dan berkembang menjadi kanker leher rahim bila tidak segera terdeteksi. Sayangnya, sebagian besar kasus baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 70 persen pasien baru didiagnosis dalam tahap lanjut, sehingga angka kematian masih tinggi. Rendahnya tingkat kesadaran dan pengetahuan tentang deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan diagnosis.
Padahal, kanker serviks memiliki tingkat kesembuhan hampir 100 persen bila ditemukan sejak dini. Deteksi dan pencegahan sejak awal menjadi kunci utama melindungi perempuan dari penyakit mematikan ini.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah menjalankan rencana aksi nasional eliminasi kanker serviks, sejalan dengan lima pilar transformasi kesehatan. Di antaranya layanan primer, layanan rujukan, pembiayaan, SDM, dan teknologi kesehatan.
Dua pendekatan utama pencegahan dilakukan melalui vaksinasi HPV (pencegahan primer) dan skrining dini kanker serviks (pencegahan sekunder). Dari berbagai metode skrining, tes HPV-DNA kini dianggap paling akurat dan efektif.
Tes ini direkomendasikan untuk perempuan berusia 30 hingga 69 tahun, dilakukan setiap lima tahun sekali, dan dapat dikombinasikan dengan Pap Smear. Pemerintah menargetkan cakupan pemeriksaan HPV-DNA minimal 75 persen dari total perempuan dalam kelompok usia tersebut.
Tes HPV-DNA bekerja dengan mendeteksi keberadaan materi genetik virus HPV berisiko tinggi pada sel leher rahim. Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel sederhana di fasilitas kesehatan dan dianalisis di laboratorium.
Tes ini memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi infeksi HPV berisiko tinggi. Hasil negatif bisa memperpanjang interval pemeriksaan hingga lima tahun, sehingga lebih efisien dan nyaman bagi perempuan.
Pemeriksaan ini sangat penting bagi perempuan dengan faktor risiko tinggi. Seperti penderita HIV, mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, atau yang pernah mendapatkan hasil Pap Smear abnormal.








