PEMBAHASAN terkait LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia terkesan tak pernah usai. Topik LGBT selalu saja berputar dalam area hukum, budaya, agama serta moralitas para penganutnya.
Seperti menjadi tema tak berujung, isu terkait LGBT terus digoreng dan selalu menuai pro dan kontra. Satu peristiwa yang menyangkut LGBT naik, publik menjadi gaduh dan membahasnya berkepanjangan. Setelah redam, di kemudian hari akan naik lagi ketika menemukan peristiwa yang bisa dicari celahnya, terutama yang berbau LGBT.
Beberapa hari terakhir, publik kembali ramai membahas LGBT. Isu ini kembali digoreng setelah terdapat unggahan video di media sosial yang menampilkan mahasiswa baru Universitas Hasanuddin, Makassar (UNHAS) diusir di acara Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Salah satu mahasiswa Fakultas Hukum di UNHAS tersebut diusir seusai terlibat dalam perdebatan dengan dua orang dosennya. Salah satu dosen menanyakan terkait status jenis kelamin mahasiswa baru tersebut, dan dijawab dengan jawaban “non biner”.
Jawaban sang mahasiswa ternyata memantik amarah kedua dosen itu, dan berujung perdebatan serta pengusiran. Diketahui, gender non biner merupakan “sebutan” untuk yang merasa dirinya bukan laki-laki maupun perempuan. Gender non biner berada “di antara” keduanya, sehingga dianggap memiliki status yang tidak jelas.
Video yang diunggah pada tanggal 19 Agustus 2022 tersebut berhasil menarik opini publik dan menaikkan kembali isu terkait LGBT. Berbagai platform media sosial akhirnya ramai dengan unggahan konten-konten yang menyangkut LGBT dan bernuansa Pelangi.
Kenapa Pelangi? Karena pelangi menjadi simbol dan penanda dari penganut LGBT. Selain itu, warna pelangi juga menjadi warna yang mengkomposisi bendera LGBT.
Makna Bendera Pelangi LGBT
Bendera pelangi yang digunakan untuk menyimbolkan LGBT pertama kali dibuat pada tahun 1978 oleh Gilbert Baker, seorang seniman, desainer, veteran Perang Vietnam dan pemain drag saat itu (history.com).
Warna yang berbeda di dalam bendera pelangi dimaksudkan untuk mewakili kebersamaan, karena orang-orang LGBT datang dari semua ras, usia dan jenis kelamin. Menurutnya, sebagaimana “pelangi”, warna-warna yang berbeda menunjukkan kebersamaan yang alami dan terlihat indah.
Bendera pelangi menampilkan delapan warna, masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bagian teratas ialah warna hot pink yang mewakili seks, merah untuk kehidupan, oranye untuk penyembuhan, kuning untuk sinar matahari, hijau untuk alam, pirus untuk mewakili seni, nila untuk harmoni, dan terakhir ungu untuk melambangkan semangat.
Bendera pelangi buatan Baker pertama kali dipamerkan di Parade Hari Kebebasan Gay San Francisco pada 25 Juni 1978. Waktu itu, para peserta pawai dengan bangga melambaikan simbol baru tersebut sebagai wujud solidaritas.
Popularitas bendera pelangi membuat Baker berpikir ulang untuk membuat simbol-simbol itu mudah diingat. Ia kemudian membawa desain bendera pelangi ke Paramount Flag Company. Bendera pelangi lambang LGBT pun berubah menjadi tanpa hot pink dan pirus yang diganti dengan warna biru untuk tujuan kepraktisan.
Baker meninggal pada 31 Maret 2017, pada usia 65, hanya dua tahun setelah legalisasi pernikahan sesama jenis di seluruh Amerika Serikat (AS). Warisannya hidup dalam bendera enam warna yang berkibar dengan bangga setiap bulan Gay Pride, yang mengakui kehidupan dan cinta dari orang-orang LGBT di seluruh dunia.
(mg2)








