INTIP Ketan di Kudus kini mulai langka. Namun masih ada pedagang setia intip ketan yang dapat ditemui dideretan pedagang jajan belakang SMP 2 Kudus. Ia adalah Suroso Ragil Saputra. Dirinya telah konsisten berjualan intip ketan sejak 2012. Ia bertekad nguri-uri atau melestarikan jajanan khas Kudus ini.
“Dulu intip ketan itu adanya di waktu Dhandangan juga Ramadan. Akhirnya, intip ketan menjadi jajanan khas Ramadan yang cocok dijadikan takjil,” ucap Suroso di sela-sela ia berjualan, Rabu (29/3/23).
Dari tahun ke tahun intip ketan semakin langka di pasaran. Sepengetahuan Suroso, di Kudus hanya dirinya lah yang masih konsisten berjualan intip ketan. Padahal, dulunya intip ketan banyak dijual di area menara Kudus. Meski bisa dibilang langka, kedepannya suroso tetap bertahan.
“Intip ketan ini terbuat dari ketan, kelapa, garam, dan gula. Rasanya asin manis gurih, harganya pun terjangkau,” terangnya.
Di hari-hari biasa, satu porsi intip ketan dijual seharga Rp 10.000. Berbeda ketika di event tertentu, satu porsinya seharga Rp 15.000. Selama ramadhan ini, suroso berjualan di belakang SMP 2 Kudus, mulai pukul 16.00 sampai 18.00. Dengan waktu dua jam itu setiap harinya Suroso menghabiskan sekitar 1,5 kg ketan.
“Alhamdulillah cukup ramai. Sekarang kawula muda sudah banyak yang suka, bukan cuma orang tua saja. Anak-anak juga suka, mereka beli bersama orang tuanya,” ungkapnya.
Salah pembeli intip ketan, Fidi Andrea menyampaikan, ia sudah bolak-balik mencicipi intip ketan buatan Pak Suroso. Pertama kali mencoba, saat di event pasar kuliner jadul awal Februari lalu. Menurutnya, rasa intip ketan ini pas di lidahnya. Cocok dijadikan takjil juga pengganjal perut.
“Orang rumah juga saya suruh cobain, kata mereka rasanya enak dan unik. Apalagi kalau masih anget, itu lebih nikmat. Mulai dari orang tua, sampai adik saya pun suka,” ucapnya. (mey/gih)










