Oleh: Risnowati, S.Pd
SDN 03 Kaliprau, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang
BAHASA Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal wajib untuk semua jenis dan jenjang pendidikan di provinsi DIY dan Jawa Tengah. Pendidikan Dasar adalah bagian terpadu dari Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan Dasar merupakan pendidikan yang lamanya 9 (sembilan) tahun yang diselenggarakan selama 6 (enam) tahun di Sekolah Dasar (SD) atau madrasah Ibtidaiyah (MI) dan 3 (tiga) tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau satuan pendidikan yang sederajat. Kurikulum pendidikan dasar terdiri dari kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan (Muatan Lokal).
Muatan Lokal berfungsi memberikan peluang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Satuan pendidikan dasar dapat menambah mata pelajaran, sesuai dengan keadaan lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan, dengan tidak mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional. Mata pelajaran Bahasa Jawa merupakan muatan lokal wajib bagi SD atau MI didasarkan pada kebijakan Gubernur Jawa Tengah. Mata pelajaran Bahasa Jawa bertujuan untuk mengembangkan apresiasi terhadap bahasa dan budaya Jawa Tengah, mengenal identitas masyarakat Jawa Tengah, dan menanamkan kecintaan pada bahasa dan budaya Jawa dan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjadi akrab dengan lingkungannya.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard Kingsley sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana, membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) Ketrampilan dan kebiasaan, (b) Pengetahuan dan pengertian, dan (c) Sikap dan cita-cita. Jadi hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik melalui proses belajar mencakup segala aspek kemampuan peserta didik.
Huruf atau aksara Jawa dikenal sebagai hanacaraka atau carakan adalah salah satu aksara tradisional nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya, seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak. Tulisan ini berkerabat dekat dengan bahasa Bali. Huruf Jawa nglegena adalah aksara dasar untuk menulis bahasa Jawa modern. nglegena ini terdiri dari 20 suku kata.
Metode pembelajaran bahasa Jawa tidak dapat menggunakan satu metode saja karena bahasa Jawa sendiri bersifat dinamis. Bahasa Jawa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai ketrampilan sehingga penggunaan metode atau strategi yang tepat perlu dilakukan. Pada pembelajaran Bahasa Jawa di tingkat pendidikan dasar sangat mengandalkan penggunaan metode-metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Jawa. Apabila peserta didik sudah tertarik dengan pembelajaran maka akan dengan mudah meningkatkan prestasi peserta didik dalam bidang bahasa.
Berdasarkan pendapat Roestiyah NK (2001: 125), metode drill adalah teknik yang dapat diartikan sebagai suatu metode mendidik di mana peserta didik melakukan kegiatan latihan agar peserta didik mempunyai keterampilan lebih tinggi dari yang dipelajari. Metode drill disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Selain itu dapat digunakan sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Di samping itu, metode ini dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan ketrampilan.
Metode latihan pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau ketrampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat atau inisiatif siswa untuk berpikir, maka hendaknya latihan disiapkan untuk mengembangkan kemampuan motorik yang sebelumnya dilakukan diagnosis agar kegiatan itu bermanfaat bagi pengembangan motorik siswa.
Adapun langkah-langkah metode drill tersebut adalah asosiasi, menyampaikan tujuan yang hendak dicapai, memotivasi peserta didik, melakukan latihan dengan pengulangan secara bertahap, aplikasi, evaluasi dan tindak lanjut. (*)








